Bolehkah Penderita Autoimun Diberikan Vaksin Covid-19?

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 13 Januari 2021 18:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 13 612 2343922 bolehkah-penderita-autoimun-diberikan-vaksin-covid-19-6qwHC2Qtrt.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

PENYAKIT Autoimun atau autoimunitas adalah suatu kondisi di mana sistem imun mengenali sel atau jaringan tubuh sendiri. Sehingga, tubuh pun membentuk antibodi terhadap sel atau jaringan tersebut.

Akibatnya, sistem imun mengenali sel atau jaringan tubuh sebagai lawan dan menyerang sel atau jaringan tersebut. Peperangan ini pun menyebabkan ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, banyak pasien yang enggan pergi ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan. Sehingga, banyak penderita autoimun yang mengidap Covid-19. Namun, setelah vaksin tersedia, apakah penderita bisa divaksin?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RM Suryo Anggoro mengatakan, pada 2019 EULAR (Persatuan Melawan Rematik Eropa) mengeluarkan rekomendasi vaksin untuk pasien reumatik autoimun.

"Merujuk Eular tahun 2019, secara umum vaksin diperbolehkan atau dianjurkan pada pasien reumatik autoimun," kata Suryo dalam webinar pada Rabu (13/1/2020).

Bahkan, termasuk pemberian vaksin SARS-CoV2 diperbolehkan. Meski demikian, perlu diperhatikan bahwa data keamanan maupun efektivitas vaksin SARS-CoV2 pada populasi penyakit autoimun belum banyak.

Akan tetapi, lanjut dr. Suryo, menurut rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menyatakan bahwa pemberian vaksinasi terhadap penderita autoimun dinilai belum layak. Pasien autoimun tidak dianjurkan untuk diberikan vaksinasi Covid-19 sampai hasil penelitian yang lebih jelas telah dipublikasi.

"Sampai saat ini dinilai belum layak, tetapi mengacu pada penelitian yang terus diperbaharui, ada kemungkinan di kemudian hari statusnya berubah menjadi layak," jelasnya.

Akan tetapi, dr. Suryo pun memberikan contoh lain, apabila seorang tenaga medis mengalami autoimun, bisa saja ia diberikan vaksinasi karena risiko terpapar Covid-19 menjadi lebih rentan.

"Karena tenaga medis kan bertemu dengan banyak orang dan menjadikan mereka lebih berisiko tinggi terhadap Covid-19. Namun kami masih sama-sama menunggu penelitian selanjutnya," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini