Sejumlah Cara Menkes Budi Hadapi Keterbatasan Sumber Daya Rumah Sakit

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 14 Januari 2021 14:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 14 481 2344401 sejumlah-cara-menkes-budi-hadapi-keterbatasan-sumber-daya-rumah-sakit-gppazVIRKb.jpg Menkes Budi Gunadi (Foto: Setpress)

Seiring dengan musim pasca liburan Natal dan Tahun Baru, angka kasus aktif positif Covid-19 di Indonesia setiap hari semakin mengalami kelonjakan. Dari angka 8 ribu, lalu naik 10 ribu, hingga yang teranyar, Rabu 13 Januari kemarin dengan menembus angka 11 ribu kasus positif Covid-19.

Kenaikan angka kasus aktif ini berbanding lurus dengan kebutuhan bed atau tempat tidur di rumah sakit. Menkes Budi menyebutkan, perbandingan dari kebutuhan tempat tidur di rumah sakit pada November 2020 dengan Januari 2021, sudah mengalami peningkatan lebih dari 2 kali lipat.

 Pasien Covid-19 melonjak

“Di November 2020 kasus aktifnya 50 ribuan, sekarang jadi 120 ribu. Dengan hitung-hitungan jumlah bed itu 30% dari kasus aktif, maka jika di November kita hanya butuh 15 ribu tempat tidur tapi sekarang kita butuh 36 ribu bed. Dalam waktu satu bulan, kita harus menambah jumlah bed untuk pasien Covid-19,” kata Menkes Budi, dikutip dari akun chanel Youtube resmi Sekretariat Presiden, Kamis (14/1/2021).

Menyiasati masalah kelonjakan kasus positif yang diprediksikan masih akan terus terjadi hingga awal Februari ini, Menkes Budi menyebutkan ada empat cara yang sudah pemerintah lakukan.

Cara pertama, Kemenkes sudah mengimbau ke semua direktur dan pemilik rumah sakit, sementara waktu ini untuk mengkonversi jumlah tempat tidur pasien untuk keperluan pasien Covid-19.

“Ini cara cepat menambah tempat tidur, saya minta tolong ke semua dirut dan pemilik rumah sakit. Tolong konversikan tempat tidur yang tadinya bukan untuk Covid, menjadi buat pasien Covid. Secara sementara saja, sambil kita bisa menghadapi lonjakan kebutuhan puluhan ribu tempat tidur,” tambahnya.

Cara kedua, Kemenkes sudah merelaksasi beberapa peraturan terkait surat tanda registrasi (STR) resmi untuk para perawat. Dengan ini, sehingga sekitar 10 ribu orang perawat yang belum memiliki STR bisa langsung masuk dan bekerja di lapangan.

Saat ini, Menkes Budi menyebut, dirinya bersama tim IDI dan Kemenkes sedang mengkaji relaksasi peraturan yang sama untuk sekitar 3.000 sampai 4.000 orang dokter.

Selanjutnya, untuk tambahan obat dan fasilitas contohnya seperti immunoglobulin, convalescent plasma hingga high flow nasal akan dipersiapkan pemerintah.

Kemenkes, ujar Menkes Budi, telah mengimbau ke pemerintah daerah untuk membantu soal kebutuhan obat dan fasilitas. Per 11 Januari, pihaknya sudah memanggil perusahaan dari obat-obatan pasien Covid-19 yang susah didapatkan.

“Kalau kurang, nanti kami negosiasikan langsung dengan beberapa obat-obatan yang kami dengar susah. Saya panggil sore ini, saya akan minta mereka untuk siapkan,” lanjut Menkes Budi.

Terakhir, Menkes Budi memohon kerjasama pada masyarakat, untuk cukup melakukan isolasi mandiri di rumah jika ternyata positif Covid-19 tapi tidak mengalami gejala seperti demam hingga sesak napas.

“Tolong kepada masyarakat, kalau tidak sesak, tidak demam itu masih bisa isolasi mandiri. Punya kamar sendiri, isolasi di kamar. Kalau rumahnya sesak, kami himbau ke kepala daerah untuk bikin tempat-tempat isolasi seperti Wisma Atlet, Wisma Haji, asrama, hotel-hotel. Nanti kami bikin mekanismenya, gimana ini tetap dipantau oleh dokter baik lewat telefon atau telemedicine. Ini untuk mengurangi beban rumah sakit, biar pasien yang berat yang diurus di rumah sakit,” pungkas Menkes Budi.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini