Waduh, di Rumah Saja Tingkatkan Kasus Mata Minus pada Anak

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 18 Januari 2021 13:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 18 481 2346365 waduh-di-rumah-saja-tingkatkan-kasus-mata-minus-pada-anak-VgRNih7uZ8.jpg Anak pakai kacamata (Foto: pediatric eyes associates)

Melakukan kegiatan di rumah saja merupakan efek dari masih tingginya kasus Covid-19. Namun ternyata hal ini juga memberi dampak buruk pada kesehatan mata anak. Laporan JAMA Ophthalmology menjelaskan bahwa kasus mata minus pada anak-anak usia sekolah meningkat selama pandemi.

Hampir 125.000 anak di China menjalani pemeriksaan mata selama 2015 hingga 2020. Dari jumlah tersebut, 2015 hingga 2019 prevalensi miopia atau mata minus relatif stabil. Namun, pada Juni 2020, kasusnya meningkat 6 kali lipat, dan terjadi pada usia 6 hingga 8 tahun.

anak di rumah saja

Misalnya, prevalensi di kalangan anak usia 6 tahun meningkat dari 6 persen pada 2019, menjadi 22 persen pada 2020. Peningkatan serupa tidak dialami pada mereka yang berusia 9 hingga 13 tahun.

Menurut laporan NJEM Journal Watch, para peneliti mencatat bahwa status refraksi anak-anak yang lebih muda mungkin lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan daripada anak-anak yang lebih tua. Hal ini berkaitan dengan individu yang lebih muda masih dalam periode penting perkembangan miopia.

"Jika karantina di rumah diperlukan, maka orangtua harus mengontrol waktu menatap layar anak-anak sebanyak mungkin, dan meningkatkan aktivitas luar ruangan yang diperbolehkan sambil menjaga jarak sosial yang aman," kata peneliti.

Menyikapi hal ini, Pakar Kesehatan Universitas Indonesia dr Ari Fahrial Syam, SpPD mengkhawatirkan, 'belajar dari rumah' yang masih harus dialami anak-anak di masa pandemi ini.

"Laporan penelitian dari China ini perlu dicermati oleh para orangtua di Indonesia," katanya di akun Twitter pribadinya, @DokterAri.

Sementara itu, Dokter Mata di Gleneagles Hospital Singapura, dr Jimmy Lim, menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang membuat anak-anak mengalami mata minus:

1. Faktor genetik

Anak dari orangtua yang memiliki masalah mata minus cenderung akan mengalami masalah serupa. Dalam beberapa kasus, rabun dekat bahkan dapat berkembang secara progresif sejak usia muda dan menjadi stabil di usia 20-an.

2. Terlalu banyak memandang jarak dekat

Saat si anak sering melihat dari jarak dekat, seperti membaca atau menggunakan ponsel pintar dengan durasi panjang, ada banyak fokus di tengah mata, sementara itu penglihatan tepi mata tidak fokus. Jangka waktu yang lama pun meningkatkan mata minusnya.

"Oleh karena itu, disarankan agar mengistirahatkan mata setelah 30 hingga 40 menit melihat dengan jarak dekat. Ini membantu mengatasi kelelahan mata dan mata kering," kata dr Lim di laman Gleneagles.

3. Jarang keluar rumah

Berdasarkan studi dan pengamatan, paparan yang lebih besar terhadap cahaya alami sangat penting dalam membantu anak-anak menghindari mata minus atau memperlambat perkembangan jika si anak sudah mengalami mata minus.

Pada kasus anak-anak Australia misalnya, mereka menghabiskan waktu 7 jam lebih banyak dalam seminggu di luar rumah dibandingkan anak-anak Singapura.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini