Diduga Pantau Karyawan Pakai Bantal Pintar, Perusahaan Ini Dituntut ke Pengadilan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 19 Januari 2021 10:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 19 612 2346838 diduga-pantau-karyawan-pakai-bantal-pintar-perusahaan-ini-dituntut-ke-pengadilan-H5ngPNywUp.jpg Ilustrasi bantal pintar. (Foto: Lifeforstock/Freepik)

BELUM lama ini media sosial China heboh dengan laporan yang menyebut salah satu perusahaan teknologi dituntut ke pengadilan oleh karyawannya. Pasalnya, pihak perusahaan diduga diam-diam menggunakan bantal pintar untuk memantau aktivitas setiap karyawan di kantornya.

Dikutip dari Oddity Central, Selasa (19/1/2021), salah satu karyawan perusahaan teknologi tinggi yang berbasis di Provinsi Zhejiang, China, ini mengungkapkan praktik yang menurutnya ilegal dan tidak bermoral tersebut ke media sosial.

Baca juga: 4 Manfaat Sarung Bantal Berbahan Sutra untuk Kulit 

Karyawan yang diketahui bernama Wang itu mengatakan bahwa dirinya dan sembilan karyawan lainnya telah diawasi oleh perusahaannya melalui bantal kursi selama beberapa bulan terakhir. Bantal tersebut merupakan pemberian dari manajemen perusahaan dan diharapkan dapat membantu mereka agar tetap sehat dengan cara memantau organ tubuh.

Ilustrasi karyawan. (Foto: Joergelman/Pixabay)

Sayang bantal itu justru memiliki manfaat yang disalahgunakan. Wang mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya menyambut baik hadiah yang diberikan oleh perusahaannya. Sebab, bantal pintar tersebut menawarkan banyak data kesehatan seperti gelombang napas, detak jantung, postur duduk, dan mengingatkan para karyawan untuk meregangkan tubuh atau berdiri jika duduk terlalu lama.

Baca juga: Vicky Prasetyo Siap Lamar Kalina Octaranny Akhir Januari Nanti

Sepuluh karyawan tersebut lantas benar-benar percaya tentang niat baik perusahaan yang memerhatikan kesehatan dan kesejahteraan mereka. Hingga suatu hari Wang bertemu dengan salah satu manajer di departemen sumber daya manusia (SDM) yang bertanya mengapa ia tidak berada di mejanya antara pukul 10.00 sampai 10.30 sehari sebelumnya.

Manajemen mengatakan akan memotong bonus bulanannya jika perilaku tersebut terus berlanjut. Wanita itu lantas menyadari bahwa satu-satunya cara mereka bisa mengetahui para karyawan berada jauh dari mejanya adalah dengan bantal kursi cerdas tersebut.

"Saya merasa seperti ditelanjangi di tempat kerja, seolah-olah memiliki alat pelacak yang terpasang pada saya. Semua data pribadi Anda selama jam kerja, seperti berapa lama bekerja, saat pergi, suasana hati, dan lain sebagainya ada di tangan manajemen. Departemen SDM diizinkan mengakses informasi ini, jadi apakah kami dievaluasi berdasarkan data digital?" ungkapnya.

Unggahan Wang menjadi viral di media sosial, dan akhirnya diangkat oleh media lokal utama. Dihadapkan dengan respons negatif yang sangat besar, perusahaan technology tersebut tidak punya pilihan selain mengeluarkan pernyataan tentang masalah tersebut.

Juru bicaranya mengakui bahwa karyawan kantor sebenarnya telah diberi bantal kursi pintar, tetapi membantah bahwa perusahaan bermaksud menggunakannya sebagai alat pemantauan.

Baca juga: Selain Uang, 4 Barang Ini Tak Boleh Ditaruh di Bawah Bantal Lho 

"Kami memberikan bantal kepada karyawan kami hanya untuk mengumpulkan lebih banyak data uji, bukan memantau mereka," kata juru bicara perusahaan tersebut.

Ilustrasi kantor perusahaan. (Foto: Adolfo Felix/Unsplash)

Ia menambahkan bahwa hadiah itu sebenarnya adalah uji pra-pasar untuk aksesori kursi pintar. Penjelasan ini tidak banyak membantu menenangkan kabar yang beredar, terutama karena ada banyak hal yang tidak benar-benar sesuai.

Investigasi yang dilakukan oleh Chinese Publication 21st Century Business Herald mengungkapkan bahwa karyawan telah diberi formulir persetujuan untuk pengumpulan data, tetapi hanya dalam bahasa Inggris, bukan bahasa China.

Baca juga: Lebih Sehat Mana, Tidur Pakai Bantal Atau Tidak? 

Seorang pengacara dari publikasi tersebut juga menduga bahwa perusahaan telah melanggar undang-undang privasi dengan mengizinkan data yang dikumpulkan untuk dibagikan dengan karyawan lain, seperti manajemen sumber daya manusia.

"Jika perusahaan telah memberi tahu karyawan tentang hal itu sebelumnya dan mendapatkan persetujuan mereka, maka program persidangan ini legal. Namun, dokumen persetujuan yang dikirim ke staf semuanya dalam bahasa Inggris, bukan bahasa utama mereka," jelas pengacara Yang Wenzhan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini