Keberhasilan ASI Eksklusif Meningkat Selama Pandemi Covid-19, Kok Bisa?

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 20 Januari 2021 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 20 481 2347758 keberhasilan-asi-eksklusif-meningkat-selama-pandemi-covid-19-kok-bisa-xfGoe72dB1.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Selama pandemi Covid-19 berdampak terhadap pola hidup, dan keterbatasan pelayanan kesehatan publik. Misalnya, pelayanan konseling ibu hamil dan menyusui di Puskesmas. Terlebih saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Ketua Tim Peneliti Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK mengatakan, survei daring dari HCC yang dilakukan di 20 provinsi di Indonesia membuktikan, selama masa pandemi Covid-19 di tahun 2020, angka ASI Eksklusif meningkat tajam mencapai 89 persen.

"Kebijakan PSBB yang mengharuskan ibu tetap berada di rumah justru memberi pengaruh positif terhadap peningkatan perilaku laktasi. Angka ini meningkat tajam dibanding angka ASI Eksklusif di Indonesia selama beberapa tahun ini yang masih berkisar antara 30-50 persen," katanya saat webinar bertajuk 89% Ibu Menyusui Selama Masa Pandemi Covid-19 Berhasil Menyusui ASI Secara Eksklusif, Rabu (20/1/21).

Ibu Menyusui

Ia menjelaskan, penelitian dilakukan terhadap 379 responden Ibu Menyusui dari 20 propinsi di Indonesia. Menunjukkam peningkatan angka keberhasilan ASI Eksklusif di Indonesia selama masa pandemi terjadi sangat tinggi pada kelompok yang bekerja dari rumah (work from home), yaitu sebesar 97,8 persen serta pada kelompok Ibu menyusui yang tetap kerja dari kantor (work from office) sebesar 82,9 persen.

Baca Juga : Bumil Wajib Tahu, Ini 5 Persiapan Menyusui agar Menyenangkan

Banyaknya jumlah ibu menyusui (sebesar 70 persen) yang berkonsultasi laktasi dengan tenaga kesehatan secara daring, terutama melalui aplikasi WhatssApp (sebesar 40 persen). Mayoritas responden mengakui layanan kesehatan daring selama masa pandemi sangat membantu dan efektif.

"Itu sebabnya penting bagi pemerintah untuk memastikan aspek aksesibilitas dan kualitas jaringan serta tidak lupa melindungi aspek privacy dan perlindungan data pribadi serta detail medical record pasien yang memanfaatkan fasilitas telekonsultasi," tambahnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini