Terapi Plasma Konvalesen Efektif untuk Pasien Covid-19, Simak Cara Kerjanya

Diana Rafikasari, Jurnalis · Rabu 20 Januari 2021 17:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 20 481 2347860 terapi-plasma-konvalesen-bantu-penyembuhan-pasien-covid-19-ini-cara-kerjanya-h0eCikWqpK.jpg Ilustrasi covid-19. (Foto: Freepik)

VIRUS corona atau covid-19 masih mewabah secara global, termasuk di Indonesia. Segala langkah pencegahan pun terus dilakukan. Selain menerapkan program vaksinasi secara massal, ada juga metode terapi plasma konvalesen.

Direktur Lembaga Molekuler Eijkman Profesor Amin Soebandrio mengatakan bahwa terapi ini menggunakan plasma darah pasien yang sudah sembuh dari covid-19. Ia menjelaskan, tubuh manusia akan terbentuk antibodi ketika terinfeksi jamur, bakteri, atau virus. Terapi plasma konvalesen merupakan pendekatan dengan mekanisme itu.

Baca juga: Tidak Semua Penyintas Covid-19 Bisa Donor Plasma Konvalesen, Ini Kriterianya 

"Antibodi itu ketika pasiennya sudah sembuh berarti pasiennya sudah bisa mengatasi infeksinya itu bisa dipakai untuk membantu orang lain yang masih sedang sakit. Jadi prinsipnya seperti zona," ungkap Amin belum lama ini.

Terapi plasma konvalesen

Ia mengungkapkan, pengambilan plasma darah melalui tahapan yang dipastikan aman dan cocok untuk pasien. Plasma itu selanjutnya diberikan kepada pasien yang masih dirawat atau yang dalam keadaan sakit berat.

"Plasma ini bisa mengeliminasi atau mengimobilisasi virusnya, maka diharapkan lingkaran infeksi itu akan terputuskan sehingga pasien bisa terhindar dari serangan virus itu kemudian bisa memperbaiki jaringannya yang sudah rusak, kemudian bergiliran akan memperbaiki sistem imunnya, begitu seterusnya," papar Amin.

Baca juga: Tak Hanya Corona, Terapi Plasma Konvalesen Juga Bisa Cegah Ebola 

Dia melanjutkan, pengambilan plasma darah dilakukan terhadap pendonor yang sehat dan berjenis kelamin laki-laki, meskipun perempuan tetap berpeluang. Pemilihan jenis kelamin karena laki-laki tidak memiliki antigen HLA.

"Itu mungkin yang akan bisa membuat masalah di resipiennya. Kalau perempuan boleh, syaratnya tidak boleh sedang hamil atau bisa dipastikan bisa diperiksa. Kemudian kita mesti memastikan kondisi kesehatan yang lainnya, laboratorium harus baik, covid-nya harus negatif, dan persyaratan donor darah harus terpenuhi. Misalnya, dia tidak boleh mengandung malaria, virus HIV, hepatitis, dan sebagainya. Itu harus negatif," jelas Amin.

Sebelum mendonorkan plasmanya, pendonor juga harus memenuhi melengkapi berkas administrasi, seperti surat kesediaan.

Terapi yang berlangsung baik memerhatikan tiga komponen yaitu pendonor yang sehat, produk yang baik, dan penerima plasma. Terkait produk, Amin menyatakan harus memiliki antibodi dalam kadar yang cukup.

"Kemudian yang ketiga penerimanya harus tidak boleh ada ketidakcocokan golongan darah walaupun lebih ringan dari persyaratan golongan darah karena ini hanya plasma," pungkasnya.

Baca juga: Hasil Penelitian Ungkap Penyintas Covid-19 Miliki Kekebalan Selama 5 Bulan 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini