Tak Ditanggung BPJS, Pengobatan Radang Usus Tak Punya Banyak Pilihan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 20 Januari 2021 20:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 20 481 2347931 tak-ditanggung-bpjs-pengobatan-radang-usus-tak-punya-banyak-pilihan-LTbx6MpKBV.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

INFLAMMATORY bowel disease (IBD) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian bagi para penderitanya. Penyakit ini ditandai dengan gejala awal paling umum yakni diare.

Sayangnya, sampai kini masih banyak masyarakat awam yang cenderung mengabaikan dan menganggap remeh penyakit ini. Padahal, jika dibiarkan IBD bisa memperparah kondisi pasien akibat komplikasi yang ditimbulkan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSCM-FKUI, dr. Rabbinu Rangga Pribadi, Sp.PD, menjelaskan, IBD terbagi menjadi 2 tipe, yaitu Ulcerative Colitis (UC) dan Crohn’s Disease (CD). Pada UC, penderitanya bisa mengalami toxic megalocon (pembengkakan usus besar yang beracun), perforated colon (lubang pada usus besar), dehidrasi berat dan meningkatkan risiko Kanker Usus Besar.

Pada CD, penderitanya bisa mengalami bowel obstruction, malnutrisi, fistulas, dan anal fissure (robekan pada jaringan anus ). Jika kedua jenis IBD ini dibiarkan, keduanya bisa menciptakan komplikasi seperti penggumpalan darah, radang kulit, mata, dan sendi, serta komplikasi lainnya.

Oleh karena itu, menurutnya pengobatan IBD sangatlah dinamis karena proses penyakitnya yang juga dinamis. Artinya di satu waktu IBD dapat terkontrol dengan obat serta diet yang tepat. Tapi di waktu lain, penyakit tersebut dapat mengalami kekambuhan.

radang usus

"Para dokter memiliki berbagai macam pilihan pengobatan walaupun beberapa obat seperti agen biologik tak dapat diakses secara luas karena tidak ditanggung jaminan kesehatan nasional (JKN),” kata dr. Rabbinu, dalam seminar virtual ‘Waspada Komplikasi dan Kematian akibat IBD’.

Dokter Rabbinu mengatakan, kadang kala pasien memerlukan kombinasi dua obat untuk mengontrol radang usus yang terjadi. Tapi, beberapa pasien lain juga memerlukan operasi untuk membuang bagian usus yang mengalami peradangan.

"Pada dasarnya, kesulitan pertama yang paling sering dihadapi adalah memastikan diagnosis pada pasien tersebut apakah IBD atau radang usus yang disebabkan infeksi lainnya. Kesulitan kedua adalah terbatasnya akses pasien terhadap agen biologik karena masalah biaya," lanjutnya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa agen biologik memiliki manfaat yang besar terutama pada pasien IBD dengan derajat keparahan sedang dan berat.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini