Ilmuwan China Klaim Berhasil Temukan Rahasia Umur Panjang

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 20 Januari 2021 21:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 20 612 2347912 ilmuwan-china-klaim-berhasil-temukan-rahasia-umur-panjang-K8LpV086AR.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PARA Ilmuwan di China mengklaim telah mengembangkan terapi gen baru, yang dapat memperlambat proses penuaan dan memperpanjang masa hidup. Penelitian tersebut dinilai berhasil pada tikus.

Meski begitu, para ilmuwan asal Beijing tersebut yakin bahwa apa yang mereka temukan akan berhasil juga diadopsi pada manusia.

Metodenya, yang dirinci dalam makalah di jurnal Science Translational Medicine awal bulan ini, melibatkan penonaktifan gen yang disebut kat7 yang ditemukan peneliti sebagai kontributor utama penuaan sel. Penelitian ini dianggap sebagai terapi spesifik pertama di dunia yang berhasil dikerjakan.

awet muda

"Tikus-tikus lab itu memperlihatkan hasil nyata dari terapi gen baru 6-8 bulan dan secara keseluruhan meningkatkan penampilan serta kekuatan cengkeramannya. Terpenting, mereka umurnya lebih panjang sekitar 25 persen," kata co-supervisor proyek, Profesor Qu Jing yang juga merupakan spesialis penuaan dan pengobatan regeneratif dari Institute of Zoology di Chinese Academy of Sciences (CAS).

Tim ahli bilogi dan berbagai disiplin ilmu di CAS menggunakan metode CRISPR atau Cas9 untuk menyaring ribuan gen yang merupakan pendorong kuat penuaan seluler, istilah yang digunakan untuk menggambarkan penuaan sel.

Dari sana para peneliti mengidentifikasi 100 gen dari sekitar 10.000 gen, dan kat7 adalah yang paling efisien dalam berkontribusi pada penuaan sel.

Kat7 sendiri adalah satu dari puluhan ribu gen yang ditemukan dalam sel mamalia. Para peneliti menonaktifkannya di hati tikus menggunakan metode yang disebut vektor lentiviral.

"Kami baru saja menguji fungsi gen dalam berbagai jenis sel, dalam sel induk manusia, sel nenek moyang mesenkim, sel hati manusia dan sel hati tikus, dan untuk semua sel ini kami tidak melihat ada yang terdeteksi toksisitas seluler. Dan untuk tikus, kami belum melihat efek sampingnya," terang Prof Qu.

Meski demikian, metode ini masih jauh dari kesiapan untuk uji coba pada manusia. "Masih perlu waktu untuk menguji fungsi kat7 pada jenis sel manusia dan organ lain dari tikus serta pada hewan praklinis lainnya sebelum kami menggunakan strategi penuaan manusia atau kondisi kesehatan lainnya," tuturnya

Prof Qu berharap bisa melakukan penelitian ini pada primata, tetapi itu akan membutuhkan banyak dana dan lebih banyak penelitian terlebih dahulu. "Pada akhirnya, kami berharap dapat menemukan cara untuk menunda tua meski presentasenya sangat kecil di masa depan," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini