Viral Pandji Pragiwaksono Dianggap Siksa Karyawan, Psikolog: Setiap Orang Tak Sama

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 24 Januari 2021 16:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 24 612 2349927 viral-pandji-pragiwaksono-dianggap-siksa-karyawan-psikolog-setiap-orang-tak-sama-scmdGdeEVw.jpg Pandji Pragiwaksono. (Foto: Okezone)

CUITAN Pandji Pragiwaksono di Twitter jadi sorotan netizen. Komedian tersebut dinilai 'menyiksa' karyawannya lewat jam kerja yang tidak wajar.

Dia bercerita kalau baru saja mengirimkan pesan ke timnya tentang pekerjaan pada pukul 00.44 dini hari, Sabtu (23/1/2021). Setelah itu, Pandji Pragiwaksono menjelaskan bahwa bayangan orang-orang tentang bekerja dengannya adalah sesuatu yang mengasyikan itu keliru.

"Orang-orang berpikir bekerja dengan saya itu menyenangkan dan penuh dengan tawa. Pandji sebagai pengusaha itu sangat berbeda dengan Pandji sebagai penghibur. Saya menekan orang-orang. Saya menuntut. Dan saya tidak berbasa-basi. Tambahannya, saya memecat orang dengan cepat," kata Pandji dalam bahasa Inggris.

Pernyataannya itu dia lontarkan 3 menit setelah kejadian, dilihat dari waktu yang tertera di cuitan Twitter tersebut. Unggahan ini mendapat likes sebanyak 2,8 ribu dan dibagikan ulang oleh 5 ribu netizen.

Twit Panji

Banyak netizen geram. Salah satunya akun @alexandermati**, "Nge-chat tim kamu tentang pekerja pada pukul 00.44 dini hari di hari Sabtu itu kayaknya sudah bukan soal push people. Itu pengisapan. Penindasan manusia atas manusia," tegasnya.

Di sisi lain, Psikolog Klinis Meity Arianty menilai sebaginya publik jangan tersulut emosi dengan pernyataan tersebut. Sebab, ada kemungkinan kalau dari sisi karyawannya tidak merasa 'ditindas'.

"Bisa jadi memang karyawannya loyal dan suka-suka saja. Karena kalau karyawannya suka dan nyaman, mereka akan loyal dan asyik-asyik saja," terang Meity pada Okezone melalui pesan singkat, Minggu (24/1/2021).

Menurutnya, publik tidak bisa kemudian menyamakan apa yang mereka alami dengan kondisi orang lain, dalam hal ini situasi di tempat kerja atau instansi. Untuk mereka yang bekerja di perusahaan dengan jam kerja jelas, tentu tak bisa disamakan dengan orang yang bekerja di perusahaan yang jam kerjanya 'tidak bisa ditebak' seperti industri media misalnya.

"Pada kasus Pandji, kita enggak tahu kan jenis kerjaan dia apa dan jam kerjanya bagaimana, apakah memang jam malam atau bagaimana. Sehingga wajar atau enggak jam kerjanya itu kembali pada perusahaan tersebut, dan kembali pada karyawannya di situ bagaimana perjanjian awalnya. Karena enggak mungkin tiba-tiba sepihak," papar Mei.

Mei menambahkan, pada beberapa kasus, ada orang yang memang suka bekerja 'overtime' karena apa yang dia lakukan adalah passionnya. "Ya, kalau emang passion, biasanya enggak ngerasa terbebani terlebih dia enjoy dan nyaman ngejalanin pekerjaannya," katanya.

Jadi, selagi si karyawan merasa happy dan enjoy menjalankan pekerjaannya, ya, risiko adanya masalah kesehatan mental kecil. "Meski, Anda juga tetap memerhatikan masalah kesehatan fisik, ya. Supaya, pekerjaan Anda yang sesuai passion itu tetap bisa dinikmati secara utuh," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini