Gagap Jadi Salah Satu Efek Ganjil Covid-19?

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 25 Januari 2021 14:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 25 481 2350410 gagap-jadi-salah-satu-efek-ganjil-covid-19-iMp059S6cj.jpg Gagap (Foto: Medical Daily)

Sebagian besar masyarakat sudah cukup familiar dengan efek samping pada tubuh yang disebabkan terinfeksi Covid-19. Tapi ternyata ada lagi efek samping yang bisa dimunculkan oleh Covid-19, yang disebut sebagai odd effect atau efek aneh alias ganjil.

Efek ganjil dari penyakit Covid-19 ditemukan dari hasil studi Scientific American. Mengutip Newser, Senin (25/1/2021) studi awal ini memperlihatkan bahwa di sepertiga pasien Covid-19 muncul gejala neurologis, seperti stroke, psikosis, mania, gagap, kabut otak, dan kerap lupa.

 Pasien Covid-19

“Semengerikan angka kematian, pada akhirnya dampak ini bisa jadi ‘warisan’ yang memengaruhi satu dari 10 orang Amerika,” ujar Dr. William Banks dari University of Washington.

Seperti contohnya kisah seorang guru berusia 40 tahun yang Agustus 2020 terinfeksi Covid-19, kemudian tiba-tiba kehilangan suaranya dan suaranya baru muncul setelah satu bulan kemudian, namun dengan kondisi tergagap-gagap.

Awalnya kondisi tersebut, dianggap tim dokter sebagai bentuk stres. Tapi hal ini dibantah oleh dokter ahli saraf dari University of Michigan, Soo-Eun Chang.

Meski ia tak menampik, memang stres bisa jadi salah satu faktor yang bisa membuat gagap jadi lebih buruk.

“Berbicara itu adalah salah satu perilaku gerakan yang lebih kompleks. Ada 100 otot yang terlibat di dalamnya, yang harus berkoordinasi satu sama lain dalam skala waktu milidetik, dan itu tergantung pada otak yang berfungsi dengan baik,” jelas Dokter Soo-Eun Chang.

Terkait hubungan antara Covid-19 sebagai penyebab timbulnya gejala neurologis ini sendiri. Dari laporan Scientific American, seperti yang dilaporkan oleh ilmuwan, meskipun mereka menemukan ada jejak virus pada beberapa otak pasien Covid-19 yang diotopsi.

Tapi hal ini tidak otomatis ditemukan di semua pasien, membuat para peneliti mencoba cara lain untuk menemukan bagaimana virus SARS-CoV-2 ini bisa berdampak pada neurologis manusia. Maka dari itu, tahapan penelitian dikatakan membutuhkan lebih dari sekedar otopsi otak.

Untuk diketahui, Scientific American sendiri menginformasikan sejauh ini mereka hanya memiliki beberapa data dari beberapa ratus dikarenakan kurangnya laboratorium memadai yang memenuhi syarat dan peralatan yang diperlukan.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini