Hari Gizi Nasional, Pandemi Harus Momentum Tingkatkan Komitmen

Wilda Fajriah, Jurnalis · Senin 25 Januari 2021 09:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 25 612 2350177 hari-gizi-nasional-pandemi-harus-momentum-tingkatkan-komitmen-gvF6K9xA8D.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

HARI Gizi Nasional diperingati setiap tanggal 25 Januari. Hal ini berawal dari keprihatinan Menteri Kesehatan RI saat itu, J. Leimena. Ia menugaskan Prof. Poorwo Soedarmo untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat untuk meningkatkan asupan gizi nasional dan mengatasi permasalahan kurang gizi rakyat Indonesia.

Karena merasa tak mampu jika harus turun langsung, maka Prof. Poorwo mendirikan Sekolah Djuru Penerang Makanan atau SDPM. Sekolah tersebut didirikan untuk membentuk kader-kader gizi dan bisa turun langsung ke masyarakat.

SDPM dibentuk pada 25 Januari 1951 silam. Dari sinilah kemudian 25 Januari ditetapkan sebagai Hari Gizi dan Makanan Nasional.

Tahun ini, Hari Gizi Nasional memperingati usianya yang ke-61 tahun dengan mengangkat tema Remaja Sehat Bebas Anemia. Dengan tema ini, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI berharap tema tersebut dapat menjadi momentum yang baik di masa pandemi Covid-19

makanan bergizi

"Saya berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum yang baik di masa pandemi Covid-19 untuk meningkatkan komitmen dan mempererat kerjasama seluruh elemen bangsa untuk perbaikan gizi remaja terutama dalam menanggulangi anemia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (25/1/2020).

Hal ini karena masalah gizi yang terjadi pada usia remaja akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit di usia dewasa serta berisiko melahirkan generasi yang memiliki masalah gizi.

Menurutnya, masalah gizi yang terjadi sejak masa remaja akan mempengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas, kinerja, dan daya saing di tingkat global, yang dapat berdampak terhadap kemampuan untuk mendapatkan penghidupan yang layak di kemudian hari.

Saat ini Indonesia masih dihadapkan pada beban ganda masalah gizi yaitu masih tingginya prevalensi stunting dan obesitas serta kekurangan gizi mikro terutama anemia yang masih menjadi tantangan besar.

Hal ini merupakan ancaman besar mengingat dampaknya terhadap peruninan kualitas sumber daya manusia ke depannya. Adapun upaya penanggulangan masalah gizi mikro terutama anemia, telah dilakukan salah satunya melalui suplementasi pada remaja putri.

Itu merupakan intervensi spesifik yang sangat strategis, untuk mempersiapkan calon ibu yang sehat serta dapat melahirkan generasi penerus yang berkualitas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini