Kasus Covid-19 Diprediksi Tembus 1 Juta, Pakar Kesehatan: PSBB Kok Masih Macet?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 26 Januari 2021 10:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 26 481 2350867 kasus-covid-19-diprediksi-tembus-1-juta-pakar-kesehatan-psbb-kok-masih-macet-D9XYYZwx3S.jpg Macet saat PSBB (Foto : Twitter/@sappplif)

Pakar Kesehatan Prof Ari Fahrial Syam memprediksi hari ini, Selasa 26 Januari 2021, kasus Covid-19 tembus 1 juta. Bukan tanpa alasan, kasus positif Covid-19 pada Senin (25/1/2021) sudah 999.256 dan kenaikan kasus belakangan ini di atas 10 ribu.

Ini menjadi alarm untuk semua pihak, baik itu masyarakat maupun mereka yang berusaha untuk menangani pandemi Covid-19. Evaluasi serius perlu dilakukan agar kasus Covid-19 di Indonesia bisa ditekan.

Ada beberapa catatan Prof Ari terkait dengan 1 juta kasus Covid-19 ini. Salah satunya adalah soal pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dinilai masih lemah. Ini yang membuat kasus Covid-19 terus bertambah.

PSBB

(Foto: Twitter @sappplif)

"Di DKI Jakarta misalnya, status PSBB ketat saya lihat tak memberi perbedaan pada kehidupan masyarakat. Kemacetan masih terjadi di jalan-jalan yang saya lalui, baik saat pergi ataupun pulang kerja, walau tak separah seperti saat sebelum pandemi," ungkapnya pada Okezone melalui pesan singkat, Selasa (26/1/2021).

Prof Ari melanjutkan, dirinya sedikit punya harapan ketika malam tahun baru tak ada pesta atau hingar bingar di jalanan. Ya, beberapa kota melakukan penjagaan ketat dengan melibatkan polisi dan tentara ke jalan untuk memastikan tak ada masyarakat yang berkumpul. "Dan itu efektif," katanya.

Baca Juga : Kemenkes: 9 Provinsi 'Kritis' Tempat Tidur Rumah Sakit untuk Pasien Covid-19

Nah, dia menyayangkan kenapa penjagaan ketat yang dilakukan saat tahun baru tidak diberlakukan di hari-hari setelahnya. "Padahal itu efektif dan dengan begitu, setidaknya kita bisa mengurangi kasusnya dulu. Rem dan gas harus benar-benar diterapkan," tegas Prof Ari.

Selain soal jalanan yang masih macet, Prof Ari menilai pemerintah tidak konsisten dalam menggunakan istilah dan itu membuat masyarakat bingung. Dampaknya, masyarakat tak begitu peduli dengan kebijakan yang sejatinya bertujuan baik.

"Ya, mengenai istilah PSBB atau PPKM, saya tidak mau berandai-andai, tetapi memang dari awal istilah lockdown atau karantina wilayah seperti tabu untuk digunakan atau dijalankan," papar Prof Ari.

Dia mengatakan, bukan bermaksud membandingkan dengan negara lain tetapi kita semua bisa melihat bahwa beberapa negara sebut saja Australia atau China, negara tersebut dinilai berhasil mengendalikan pandemi ini. Salah satu kuncinya adalah memberlakukan lockdown.

"Secara umum, peningkatan jumlah kasus harian juga semakin turun di beberapa negara lain, sedangkan kita masih belum bisa memprediksi kapan terjadinya penurunan kasus yang signifikan," tambahnya.

Batuk

Selain istilah PSBB atau PPKM, pemerintah juga pernah mengganti istilah yaitu OTG, ODP, PDP yang berganti suspek, kontak erat, dan konformasi. "Istilah berganti-ganti yang membingungkan," kata Prof Ari.

Terlepas dari itu semua, sejatinya kita dapat bernapas lega karena program vaksinasi sedang berjalan. Ini merupakan upaya yang diharapkan akan memberi dampak besar dalam penanganan Covid-19.

Meski begitu, pencapaian jumlahnya masih rendah dan ada masalah pada proses registrasi para calon penerima vaksin sehingga vaksin yang sudah ada di tangan, terpaksa belum bisa disuntikkan.

Hal tersebut disadari Kementerian Kesehatan dan terlihat upaya-upaya yang dilakukan untuk memperpendek proses ini agar pemebrian vaksin dapat dilakukan dengan cepat sehingga jumlah kasus Covid-19 di masyarakat dapat ditekan.

"Ingat, walau sudah ada vaksin, masyarakat tetap harus konsisten dalam melaksanakan protokol kesehatan khususnya 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak," kata Prof Ari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini