Hampir 1 Juta Kasus, Masih Banyak Orang Tak Percaya Covid-19 Ada

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 26 Januari 2021 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 26 481 2350948 hampir-1-juta-kasus-masih-banyak-orang-tak-percaya-covid-19-ada-DhPEBndJwo.jpg Pandemi Covid-19 (Foto: Today Show)

Pakar Kesehatan Prof Ari Fahrial Syam menyayangkan kasus Covid-19 nyaris 1 juta tak membuat sebagian orang percaya bahwa Covid-19 itu nyata, dan benar ada di sekitar kita.

"Situasi sudah seperti ini, saya merasa miris karena masih ada masyarakat yang menyebarkan hoaks mengenai rasa tak percaya bahwa Covid-19 ini ada di sekitar kita. Padahal, sudah ratusan dokter dan tenaga kesehatan yang meregang nyawa akibat Covid-19. Bahkan, puluhan guru besar gugur akibat Covid-19," keluhnya pada Okezone, Selasa (26/1/2021).

 Pasien Covid-19

Di sisi lain, ia pun menyayangkan penanganan Covid-19 yang sudah dilakukan belum cukup efektif menekan kenaikan kasus. Sebab, ia memprediksi bahwa Selasa, 26 Januari 2021, Indonesia mengalami 1 juta kasus Covid-19.

Salah satu penyebab masih tingginya angka kasus Covid-19 menurut Prof Ari adalah 'law enforcement' yang lemah, selain pembatasan sosial dan mobilitas masyarakat yang juga lemah.

"Berbeda dengan negara lain, saya melihat 'law enforcement' atau penegakan hukum di negara kita masih lemah. Memang beberapa media kadang kala meliput penegakan hukum yang dilakukan untuk para pelanggar protokol kesehatan, tapi penegakan hukum tak dilakukan secara masif dan konsisten," katanya.

Sedihnya, pelanggar protokol kesehatan pun dilakukan oleh beberapa oknum politik atau tokoh masyarakat yang seharusnya menjadi 'health influencer'. "Yang ada sekarang, banyak oknum itu yang malah memberi contoh tak baik kepada masyarakat," komentar Prof Ari.

Kembali ke soal kenapa masih ada saja masyarakat yang tak percaya bahwa Covid-19 itu benar ada. Badan Pusat Statistik (BPS) pernah mengungkap fakta yang mengejutkan bahwa Covid-19 ini banyak diyakini masyarakat hanya sebuah konspirasi.

BPS mencatat, sebanyak 17 persen masyarakat meyakini dirinya tak akan tertular Covid-19. Jika 17 persen dari 270 juta jiwa, maka hampir 50 juta orang beranggapan Covid-19 hanya konspirasi.

Karena itu, Epidemiolog Universitas Airlangga Laura Navila Yamani pernah menyarankan agar mereka yang tak percaya ditertibkan agar tidak meresahkan orang lain.

"Mereka yang menganggap Covid-19 ini konspirasi harus ditertibkan. Artinya, mereka diberikan sanksi apabila didapati abai pada protokol kesehatan," katanya beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Pakar Psikologi di University of Kent di Inggris, Karen Douglas, tak heran kenapa masih saja ada orang yang tak percaya bahwa Covid-19 ini benar ada dan mereka lebih percaya bahwa ini semua hanya konspirasi.

"Orang tertarik pada teori konspirasi selama periode krisis dan ketidakpastian," katanya pada Huffpost, menjawab soal kenapa konspirasi diyakini oleh banyak orang.

Selain itu, teori konspirasi dianggap memberi jawaban dari hal yang tidak pasti tersebut. Sebab, ketika teori konspirasi ini hadir, maka orang-orang diajak untuk memahami satu kasus dengan dalam meski informasi yang dikembangkan belum tentu benar.

"Dalam situasi ini, orang-orang mencari jawaban. Mereka khawatir dan merasa tidak pasti dengan situasi serta bingung informasi apa yang harus diterima," kata Douglas.

Makanya, Douglas yang sudah lama berkecimpung dalam dunia psikologi di balik teori konspirasi meyakini bahwa teori konspirasi diminati orang-orang yang merasa tak berdaya atau cemas dengan situasi. "Karena, setidaknya dari teori konspirasi itu, mereka merasa aman dan terjamin di dunia," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini