Fakta-Fakta Coronasomnia, Sulit Tidur Akibat Pandemi Covid-19

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 28 Januari 2021 07:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 28 481 2352119 fakta-fakta-coronasomnia-sulit-tidur-akibat-pandemi-covid-19-Z4QCzXkdFI.jpg Ilustrasi coronasomnia di masa pandemi covid-19. (Foto: Familydoctor)

CORONASOMNIA atau covid-somnia beberapa waktu belakangan dialami banyak orang. Ini merupakan kondisi sulit tidur atau insomnia saat masa pandemi covid-19. Kondisi ini sebagaimana ditemukan oleh para ahli.

Coronasomnia adalah fenomena yang melanda orang-orang di seluruh dunia yang mengalami insomnia yang terkait tekanan hidup selama pandemi covid-19.

Baca juga: WHO Peringatkan Wanita Hamil Tak Boleh Divaksin, Kecuali untuk Kasus Tertentu 

Di Inggris, sebuah studi pada Agustus 2020 yang dilakukan Universitas Southampton menunjukkan bahwa jumlah orang yang mengalami insomnia meningkat, yang sebelumnya satu dari enam orang, menjadi satu dari empat orang.

Masalah tidur ini banyak terjadi di kelompok para ibu, pekerja esensial dan kelompok minoritas. Di China, tingkat insomnia naik dari 14,6 menjadi 20 persen selama puncak lockdown.

"Prevalensi yang mengkhawatirkan" insomnia klinis juga terjadi di Italia dan di Yunani, hampir 40 persen responden dalam sebuah penelitian di bulan Mei terbukti mengalami insomnia.

Kata "insomnia" lebih banyak dicari di Google pada tahun 2020 daripada sebelumnya. Sederhananya, lebih banyak orang yang sekarang menderita insomnia.

Dengan pandemi memasuki tahun kedua, jarak sosial selama berbulan-bulan telah mengguncang rutinitas harian seseorang, menghapus batasan kehidupan kerja dan membawa ketidakpastian yang terus berlanjut ke dalam kehidupan, hal yang membawa konsekuensi pada waktu tidur.

Masalah itu bisa berdampak serius pada kesehatan dan produktivitas orang-orang. Namun skala masalahnya berpotensi membawa perubahan, memperkenalkan elemen baru ke dalam cara menangani gangguan tidur dan mengembalikan hidup kita ke jalur yang benar.

Baca juga: Jika Vaksin Pfizer dan Moderna Datang, Perlukah Uji Klinis di Indonesia? 

Kehidupan yang Terganggu

Insomnia, apakah akibat pandemi atau tidak, sulit untuk diatasi. Terus-menerus mengalami kesulitan tidur atau mengalami kualitas tidur yang buruk, dapat menyebabkan dampak kesehatan jangka panjang termasuk obesitas, kecemasan, depresi, penyakit kardiovaskular, dan diabetes.

Kurang tidur –yang oleh banyak otoritas kesehatan diklasifikasikan sebagai kurang dari tujuh jam semalam– juga memengaruhi pekerjaan Anda; banyak penelitian menunjukkan bahwa hal itu membuat Anda lebih mungkin melakukan kesalahan, merusak konsentrasi Anda, membuat Anda tak tanggap, dan memengaruhi suasana hati Anda.

"Jika Anda mengalami insomnia, Anda tidak sendiri, sebagian besar orang di dunia juga demikian. Ini adalah konsekuensi dari semua perubahan yang kita alami akibat covid," ungkap Dr Steven Altchuler, psikiater dan ahli saraf yang mengkhususkan diri dalam pengobatan tidur di Mayo Clinic, salah satu organisasi penelitian medis terbesar di Amerika Serikat, seperti dikutip dari BBC.

Banyak faktor yang berperan. Pertama, rutinitas dan lingkungan kita sehari-hari telah terganggu, sehingga sulit untuk menjaga ritme sirkadian kita bekerja seperti waktu normal.

Biasanya hari-hari kita berjalan sesuai jadwal. Ada perjalanan pulang pergi ke kantor, waktu istirahat dan waktu tidur, tetapi covid-19 telah mengganggu semua itu.

Baca juga: Pulih dari Covid-19, Banyak Pria Keluhkan 'Senjatanya' Susah Berdiri 

"Kita kehilangan banyak petunjuk eksternal yang ada dalam rapat kantor, juga jadwal istirahat makan siang," kata Altchuler, "Apa yang Anda lakukan (selama bekerja jarak jauh) mengganggu jam tubuh Anda."

"Otak Anda sebelumnya sudah terbiasa: Anda bekerja di tempat kerja, lalu ketika Anda di rumah berarti Anda sedang bersantai. Ada perbedaan di sana."

"Sekarang, kita semua di rumah setiap saat," kata Angela Drake, profesor kesehatan klinis di University of California, Davis, yang merawat pasien dengan gangguan tidur dan yang menulis tentang coronasomnia.

Dia juga menandai fakta bahwa ketika seseorang bekerja dari rumah, mungkin kurang berolahraga dan berpotensi lebih sedikit terpapar cahaya. Keduanya berpengaruh pada kualitas tidur.

Ilustrasi covid-19. (Foto: Ubergizmo)

Ada juga masalah kinerja. Angka pengangguran di banyak negara adalah yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, jadi tidak mengherankan jika mereka yang bekerja ingin bekerja keras untuk mempertahankan pekerjaan mereka.

Masalahnya, bekerja dari rumah dapat mengaburkan batas-batas yang sebelumnya telah diatur dan banyak orang melaporkan mereka bekerja lebih lama atau di jam-jam yang tidak teratur.

"Kita cenderung melihat batasan yang kurang jelas antara rumah dan kantor," kata Altchuler, "Orang-orang cenderung begadang (karena pekerjaan)."

Banyak orang kesulitan meninggalkan "pekerjaan di tempat kerja" saat ini. Ditambah lagi fakta merindukan hobi dan teman-teman yang penting untuk relaksasi dan menghilangkan stres.

Banyak orang mengalami masalah kesehatan mental yang dapat menyebabkan masalah tidur atau sebaliknya. Rasa ketidakpastian dan kurangnya kendali juga dapat menyebabkan masalah tidur, sedangkan periode pandemi yang panjang juga merupakan faktor.

"Awalnya, orang cenderung merasa termotivasi untuk melewati stres (saat pandemi). Tapi karena pandemi terus berlanjut dari waktu ke waktu, kebanyakan orang menjadi kurang mampu mengatasinya, mengakibatkan masalah yang lebih besar, termasuk insomnia," kata Dr Drake.

Baca juga: Bupati Sleman Positif Covid-19, Bukti Orang yang Sudah Divaksin Tidak Langsung Kebal 

Ia menambahkan, beberapa masalah tidur akan menjadi "kronis dan bertahan lama" karena pandemi telah membuat sejumlah orang kesulitan mengakses pengobatan; orang cenderung hanya mencari bantuan medis dalam keadaan darurat, sementara beberapa fasilitas kesehatan kekurangan staf atau kewalahan dengan pasien covid-19.

Faktanya, petugas kesehatan sangat terpukul oleh insomnia selama 12 bulan terakhir. Pada bulan Desember 2020, Universitas Ottawa menganalisis 55 studi global terhadap lebih dari 190.000 peserta untuk mengukur kasus insomnia, depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) sejak awal pandemi.

Semua gangguan meningkat setidaknya 15 persen di antara petugas kesehatan, dan insomnia mengalami lonjakan terbesar hampir 24 persen.

Altchuler menunjukkan bahwa insomnia "umumnya dikaitkan dengan PTSD", dan apakah Anda seorang pekerja garis depan atau bukan, insomnia biasanya meningkat setelah peristiwa besar dan negatif di dunia.

Secara umum, setiap kali seseorang mengalami trauma, apakah itu keadaan darurat kesehatan yang meluas seperti covid-19, bencana publik seperti 9/11, atau sesuatu yang lebih individual seperti kecelakaan mobil, mereka dapat mengalami masalah tidur terus-menerus yang beriringan dengan PTSD.

Bagaimana Mengatasinya

Para ahli mengatakan penting untuk mencari bantuan ketika masalah tidur terus berlanjut - terutama saat ini.

"Karena pandemi terus berlanjut untuk jangka waktu yang signifikan, tidak hanya beberapa bulan, ada kemungkinan besar bahwa angkat insomnia tidak akan turun," kata Lisa Artis, wakil CEO di Sleep Charity di Inggris.

"Itu karena jika orang tidak mencari pertolongan ketika mereka mulai menderita saat tidur, kemungkinan masalah tidur mereka menjadi gangguan tidur yaitu insomnia, dan sayangnya tidak ada perbaikan yang cepat. Sulit untuk menghentikan kebiasaan yang telah terbentuk," ungkapnya.

Altchuler menunjuk pada "berkembang pesatnya telehealth –pengobatan virtual dan kunjungan virtual" karena karantina wilayah dan ketidakmampuan atau keengganan kita untuk mengunjungi fasilitas medis secara langsung.

Perawatan yang paling umum untuk masalah tidur adalah terapi perilaku kognitif untuk insomnia (dikenal sebagai CBT-I), yang meningkatkan "higiene tidur" Anda (tidak merokok atau minum alkohol sebelum tidur, misalnya) dan melatih otak Anda untuk mengasosiasikan tempat tidur hanya dengan tidur dan tidak bekerja di tempat tidur.

Sebuah studi Universitas Michigan dari tahun lalu menunjukkan bahwa pasien yang mengakses CBT-I melalui telemedicine menerima perawatan yang sama efektifnya dengan yang mereka yang berkonsultasi secara langsung, hal yang berpotensi membuka akses yang lebih baik ke bantuan gangguan tidur.

Ada juga hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencoba mengatasi masalah tersebut.

"Salah satu aturan besar saya adalah Anda tidak boleh menggunakan laptop Anda di tempat tidur," kata Dr Drake, "Saya tidak peduli seberapa nyamannya itu. Hal itu bisa menyebabkan otak mengaitkan tempat tidur dengan pekerjaan."

Batasi juga konsumsi berita Anda untuk menghindari kecemasan yang membuat Anda terjaga di malam hari. Jangan gunakan ponsel Anda sebagai alarm. Ponsel merupakan perangkat lain yang terkait dengan pekerjaan. Perangkat "cahaya biru" yang dipancarkan ponsel juga buruk untuk kualitas tidur Anda.

Anda bisa juga mencoba memutar posisi jam di meja samping tempat tidur Anda sehingga tidak stres saat mencoba untuk tidur. Lalu ingat, keadaan ini jauh dari kenormalan, jadi tidak mengherankan kita menghadapi tantangan.

"Terakhir kali kejadian semacam ini terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu," kata Dr Drake, "Ini bukanlah sesuatu yang pernah kita alami sebelumnya."

Tapi ada kabar baik. Dua belas bulan setelah pandemi, beberapa ahli berpikir bahwa hal itu memicu kemajuan dalam pengobatan gangguan tidur.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini