Benarkah Covid-19 Jenis Baru Lebih Berbahaya?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 28 Januari 2021 08:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 28 481 2352135 benarkah-covid-19-jenis-baru-lebih-berbahaya-eXZca306Ai.jpg Ilustrasi persebaran covid-19. (Foto: Shutterstock)

BEBERAPA waktu belakangan dilaporkan adanya covid-19 jenis baru. Varian baru virus corona ini muncul di sejumlah negara. Pertama kali ditemukan di Inggris dan para ilmuwan mengatakan jenis baru ini lebih cepat menyebar. Belum lama ini Pemerintah Inggris juga diperingatkan bahwa mungkin varian tersebut lebih mematikan.

Pemerintah Indonesia menyatakan tidak menemukan kasus covid-19 jenis baru. Di Indonesia, lebih dari 1 juta orang tertular, berdasarkan data Kementerian Kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri memperingatkan diperlukan waktu dua tahun untuk menghentikan persebaran virus corona.

Baca juga: Epidemiolog: Vaksinasi Dapat Mencegah Penyebaran Covid-19 Jenis Baru 

Lalu seperti apa gejala serta persebaran penyakit ini dan bagaimana perkembangan varian baru virus corona? Berikut penjelasannya berdasarkan keterangan para ahli dan dokter seputar wabah covid-19, seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Apakah varian baru virus corona lebih berbahaya?

Varian baru virus corona bermunculan dan disebut lebih menular daripada virus asli yang mengawali pandemi. Ada ribuan versi atau varian virus covid yang berbeda, tetapi perhatian para ahli terfokus pada:

- Varian Inggris yang telah menjadi dominan di sebagian besar Inggris dan telah menyebar ke lebih dari 50 negara lain.

- Varian Afrika Selatan yang juga telah ditemukan di setidaknya 20 negara lain, termasuk Inggris.

- Varian dari Brasil.

Sebetulnya kemunculan varian baru virus corona bukan hal mengejutkan, mengingat semua virus bermutasi saat membuat salinan baru dirinya untuk menyebar dan berkembang.

Beberapa jenis bahkan bisa berbahaya bagi kelangsungan hidup virus. Namun, beberapa jenis lainnya dapat membuatnya lebih menular atau mengancam.

Tidak ada bukti bahwa virus-virus varian baru itu dapat menyebabkan sakit yang lebih parah bagi mayoritas orang yang terinfeksi. Seperti versi aslinya, risiko paling tinggi terjadi pada lansia atau pasien yang memiliki penyakit penyerta.

Baca juga: Waspada! Mutasi Covid-19 Varian Inggris Ditemukan di Filipina 

Khusus untuk virus corona varian baru Inggris, ada beberapa penelitian yang menunjukkan virus itu mungkin terkait dengan risiko kematian 30 persen lebih tinggi. Buktinya belum kuat dan datanya masih belum pasti. Penelitian yang lebih banyak sedang dilakukan.

Protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker akan tetap membantu mencegah infeksi. Namun mengingat varian baru tampak lebih mudah menyebar, penting untuk ekstra waspada.

Apa yang terjadi pada virus tersebut?

Ketiganya telah mengalami perubahan pada bagian spike protein, bagian dari virus yang menempel pada sel manusia. Hasilnya, varian ini tampaknya lebih baik dalam menginfeksi sel dan menyebar.

Baca juga: Penelitian Ungkap Gejala Covid-19 Bisa Diketahui dari Kuku dan Daun Telinga 

Para ahli berpikir strain Inggris atau "Kent" muncul pada bulan September dan mungkin lebih menular hingga 70 persen, meskipun penelitian terbaru oleh Public Health England menyebut angka antara 30 dan 50 persen. Varian inilah yang telah mendorong lockdown terbaru di Inggris.

Varian Afrika Selatan muncul pada bulan Oktober 2020, dan memiliki perubahan yang lebih penting pada spike-nya daripada varian Inggris.

Varian ini memiliki salah satu mutasi yang sama dengan mutasi di Inggris, ditambah dua lagi yang menurut para ilmuwan dapat lebih mengganggu keefektifan vaksin.

Salah satunya dapat membantu virus menghindari bagian sistem kekebalan yang disebut antibodi - beberapa penelitian menunjukkan hal ini.

Varian Brasil muncul pada bulan Juli 2020 dan memiliki tiga mutasi pada bagian spike yang berbentuk seperti paku pada virus. Ini membuatnya mirip dengan varian yang ada di Afrika Selatan.

Ilustrasi covid-19. (Foto: Okezone)

Apakah vaksin dapat melawan varian baru?

Penelitian sedang dilakukan untuk memeriksa hal ini dan beberapa hasil awal menunjukkan bahwa Vaksin Pfizer dapat melindungi dari varian Inggris.

Vaksin yang ada saat ini dirancang berdasar varian sebelumnya, tetapi para ilmuwan percaya bahwa mereka masih harus bekerja untuk melawan varian yang baru, meskipun mungkin tidak cukup baik.

Hasil awal dari penelitian atas Vaksin Moderna menunjukkan bahwa vaksin ini masih efektif melawan varian Afrika Selatan. Vaksin melatih tubuh untuk menyerang beberapa bagian virus, tidak hanya bagian spike tersebut.

Baca juga: Catat! Ini 11 Gejala yang Muncul karena Covid-19 Jenis Baru 

Varian yang muncul di masa depan bisa jadi lebih berbeda lagi. Bahkan dalam skenario kasus terburuk, vaksin dapat dirancang ulang dan disesuaikan agar lebih cocok –dalam hitungan atau minggu atau bulan, jika perlu, kata para ahli.

Seperti vaksin flu, di mana suntikan baru diberikan setiap tahun untuk memperhitungkan setiap perubahan dalam virus flu yang beredar, hal serupa dapat terjadi untuk virus corona.

Bagaimana gejala umum covid-19

Gejala virus corona dimulai dengan batuk kering dan diikuti dengan gangguan pernapasan. Batuk ini adalah batuk yang terus-menerus selama lebih dari satu jam, atau mengalami batuk rejan selama tiga kali dalam periode 24 jam.

Biasanya butuh lima hari secara rata-rata hingga timbulnya gejala, kata para ilmuwan. Namun bagi sebagian orang, gejalanya lebih lambat terjadi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan masa inkubasi covid-19 bisa sampai sekira 14 hari.

Ada tiga gejala utama virus corona, kalau Anda mengalami salah satu dari gejala ini maka harus menjalani tes.

- Batuk yang baru dan terus menerus. Batuk yang sering selama lebih dari satu jam atau mengalami tiga atau lebih periode batuk dalam waktu 24 jam.

- Demam. Suhu tubuh di atas 37,8 derajat Celsius.

- Perubahan dalam indra penciuman atau indra perasa. Dapat berupa tidak bisa merasakan atau mencium apa pun, serta rasa yang dialami ini berbeda dari kondisi normal.

James Gallagher, koresponden kesehatan dan sains BBC, melaporkan Pusat Kesehatan Masyarakat Inggris menyebut sekira 85 persen orang dengan covid-19 akan memiliki setidaknya satu dari tiga gejala utama itu.

Jika Anda mengalaminya, maka disarankan melakukan tes sesegera mungkin dan hanya meninggalkan rumah untuk menjalani tes.

Siapa pun yang tinggal dengan Anda, atau yang merupakan kelompok terdekat, harus tinggal di rumah sampai Anda mendapatkan hasilnya.

Apakah setiap orang mengalami covid yang sama?

Jawabannya tidak. Pasalnya, virus corona dapat memengaruhi banyak organ tubuh dan ada berbagai gejala yang tidak terlalu umum.

Para ilmuwan di King's College London, dengan menggunakan data dari 4 juta orang yang mencatat kesehatan mereka di aplikasi, mengatakan ada enam sub-jenis covid, beberapa di antaranya merupakan ciri penyakit parah.

Berikut ini enam sub-jenis covid tersebut:

- Seperti flu tanpa demam: Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, nyeri dada, tidak demam.

- Seperti flu dengan demam: Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, batuk, sakit tenggorokan, suara serak, demam, kehilangan nafsu makan.

- Gastrointestinal: Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, kehilangan nafsu makan, diare, sakit tenggorokan, nyeri dada, tidak ada batuk.

- Kelelahan (parah tingkat satu): Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, batuk, demam, suara serak, nyeri dada, kelelahan.

- Kebingungan (parah tingkat dua): Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot.

- Perut dan pernapasan (parah tingkat tiga): Sakit kepala, kehilangan penciuman, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot, sesak napas, diare, sakit perut.

Para peneliti juga berpikir bahwa muntah, diare, dan kram perut bisa menjadi tanda infeksi virus corona pada anak-anak.

Kalau saya batuk apakah pasti saya tertular Covid-19?

Ada banyak virus lain yang memiliki gejala serupa dengan covid-19, termasuk flu dan infeksi lain. Pusat Kesehatan Masyarakat Inggris mengatakan hampir setengah dari orang yang memiliki salah satu dari tiga gejala utama ternyata tidak mengidap covid-19. Namun, mereka tetap harus menjalani tes.

Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Diah Handayani, menjelaskan virus corona 2019-nCoV memiliki gejala yang sama dengan infeksi virus pernapasan lainnya.

Ia mengatakan gejala ringan yaitu flu disertai batuk. Kemudian, jika memberat, akan menyebabkan demam dan infeksi radang tenggorokan. Lalu jika masuk ke saluran napas, kata Diah, akan menyebabkan bronkitis.

"Yang berat ketika semakin jauh infeksi ke saluran napas bawah, itu pneumonia lengkap. Selain itu, bisa juga disertai gejala infeksi virus ke organ lain, yaitu diare," paparnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa selain gejala umum seperti demam, batuk, dan letih, pengidap covid-19 bisa merasakan:

- Sakit dan nyeri

- Tenggorokan sakit

- Diare

- Mata merah

- Pusing

- Kehilangan daya penciuman dan rasa

- Ruam pada kulit, atau pudarnya warna kulit pada jari tangan atau kaki

Bagaimana penyebarannya?

Diah Handayani yang juga merupakan dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan menjelaskan bahwa 2019-nCoV adalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia.

Bedanya dengan virus lain, jelas Diah, virus corona ini memiliki virulensi atau kemampuan yang tinggi untuk menyebabkan penyakit yang fatal.

Menurut Diah, virus ini berbahaya jika telah masuk dan merusak fungsi paru-paru, atau dikenal dengan sebutan pneumonia, yaitu infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh virus dan berbagai mikroorganisme lain, seperti bakteri, parasit, jamur, dan lainnya.

"Pertukaran oksigen tidak bisa terjadi sehingga orang mengalami kegagalan pernapasan. Itulah mengapa virus ini berat karena bukan lagi hanya menyebabkan flu atau influensa tapi dia menyebabkan pneumonia," ungkap Diah saat dihubungi BBC Indonesia.

Ia melanjutkan, proses penyebaran virus ini melalui udara yang terinhalasi atau terhirup lewat hidung dan mulut sehingga masuk dalam saluran pernapasan. Virus ini masuk melalui saluran napas atas, lalu ke tenggorokan hingga paru-paru.

"Sebenarnya belum 100 persen. Tapi dilihat dari sekian ratus kasus yang dipelajari, dan sifat dasar virus, maka inkubasi virus ini dua sampai 14 hari. Itu mengapa kita mewaspadai periode dua minggu itu," jelasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini