Share

Sering Pipis! Jangan Anggap Sepele, Mungkin Ini Penyebabnya

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Jum'at 29 Januari 2021 12:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 29 481 2352914 sering-pipis-jangan-anggap-sepele-mungkin-ini-penyebabnya-b2iTXkZXQu.jpg Sering pipis (Foto: Big Bathroom)

Sangat mengganggu aktivitas ya, jika sering buang air kecil atau pipis? Atau bahkan tanpa disengaja air kencing keluar tanpa bisa ditahan. Jika iya, kemungkinan ada gejala overactive bladder atau disebut OAB didalam kandung kemih.

Dokter Spesialis Urologi, Konsultam Urologi Wanita dan Neoro-Urologi, dr Harrina E Rahardjo, Sp. U (K), Phd dari Siloam Hospitals Asri menjelaskan, kandung kemih overaktif atau overactive bladder (OAB) adalah masalah pada fungsi penyimpanan kandung kemih yang menyebabkan dorongan untuk buang air kecil secara mendadak dan tidak bisa dikontrol atau keluarnya urine tanpa disadari (inkontinensia urine).

 mau pipis

"Penyebab utama adalah pada overactive bladder, terdapat kesalahan pengiriman sinyal antara otak dan kandung kemih. Otot kandung kemih berkontraksi terlalu awal walaupun kandung kemih belum penuh. Kontraksi ini memicu rasa ingin buang air kecil lebih sering dari biasanya," tutur dr Harrina E Rahardjo, Sp. U(K) , Phd, Jumat (29/1/2021).

dr Harrina menjelaskan, organ ginjal berfungsi menyaring darah dan menghasilkan urine. Urine yang terbentuk lalu dialirkan menuju kandung kemih untuk ditampung sementara. Pada ujung kandung kemih, terdapat sfingter (otot berbentuk cincin) yang menahan urine agar tidak keluar.

"Secara normal, ketika kandung kemih mulai penuh, otak akan mengirimkan sinyal menuju saraf kandung kemih untuk segera buang air kecil. Otot kandung kemih pun berkontraksi (meremas), sfingter terbuka, dan urine akhirnya keluar dalam proses buang air kecil," imbuhnya.

Menurut dr Harrina, terdapat sejumlah penyebab overactive bladder yaitu gangguan saraf, akibat stroke atau multiple sclerosis, infeksi saluran kemih dengan gejala yang mirip kandung kemih overaktif, perubahan hormon selama menopause, kerusakan saraf akibat penyakit diabetes, adanya tumor atau batu pada kandung kemih, pembesaran prostat, sembelit, atau efek samping operasi dan konsumsi obat-obatan yang meningkatkan produksi urine.

"Mengonsumsi alkohol serta kafein atau terjadi penurunan fungsi kandung kemih seiring bertambahnya usia juga bisa jadi penyebabnya," ungkap dr Harrina.

Pengobatannya, lanjut dr Harrina, bisa melalui pemberian obat pasca-ditemukan adanya OAB, penggunaan terapi dan alat. Contohnya penanganan latihan otot dasar panggul lalu stimulasi syaraf.

Secara spesifik, terang dr Harrina, penanganan OAB dapat dilakukan dengan sejumlah langkah berikut, anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan tambahan seperti cek urin, catatan harian berkemih, pemeriksaan radiologi dengan USG.

"Namun mencegah lebih baik dari pada mengobati. Oleh karena itu terapi perilaku gaya hidup yang diiringi dengan mengurangi konsumsi kafein, menjaga berat badan, olahraga atau senam dan berhenti merokok merupakan langkah yang ideal," pungkas dr Harrina.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini