Long Covid-19 Paling Berisiko Dialami 5 Orang Ini

Wilda Fajriah, Jurnalis · Senin 01 Februari 2021 14:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 01 481 2354426 long-covid-19-paling-berisiko-dialami-5-orang-ini-XAH8i9r6SD.jpg Ilustrasi long covid-19. (Foto: Freepik)

LONG covid-19 atau gejala setelah terinfeksi virus corona. Gejala usai menderita covid-19 ini menjadi sangat mengganggu pasien, bahkan setelah pemulihan. Gejalanya menyerupai kelelahan akut, batuk berkepanjangan, sesak napas, hingga jaringan parut yang lebih kritis pada jantung dan paru-paru. Long covid-19 juga bisa menyerang anak-anak berusia 12 tahun.

Para dokter pun takut bahaya long covid-19 begitu parah, bahkan orang yang pulih lebih cepat, atau tidak memerlukan rawat inap, harus waspada terhadap efek buruk virus corona yang berkepanjangan.

Baca juga: Sembuh dari Covid-19, Seseorang Bisa Sering Alami Sesak Napas 

Meskipun tidak ada pendeteksi yang akurat untuk memastikan risiko long covid, beberapa orang dikatakan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami gejala pasca-terinfeksi covid-19.

Mengutip Times of India, Senin (1/2/2021), berikut ini lima orang yang lebih berisiko mengalami long covid-19.

1. Orang yang memiliki 5 gejala atau lebih

Gejala pada minggu pertama infeksi covid-19 tidak hanya menjadi faktor penting untuk menentukan tingkat keparahan infeksi Anda, tetapi juga menghitung risiko covid-19 jangka panjang. Menurut sebuah studi, kebanyakan pasien yang menderita sindrom usai covid-19 memiliki lebih dari 4 atau 5 gejala pada minggu pertama diagnosis.

Penelitian yang dilakukan oleh King's College London pada lebih dari 4.000 pasien sembuh ini juga memastikan bahwa meskipun penting mencari pengobatan simtomatik tepat waktu, kesalahan diagnosis, atau pengujian yang terlambat juga dapat membuat orang berisiko.

2. Perempuan

Sementara perempuan ditemukan memiliki tingkat penyakit yang melindungi reseptor ACE2 lebih tinggi daripada pria. Hal yang menarik, perempuan mungkin lebih cenderung melawan gejala covid-19 dalam jangka panjang.

Meskipun alasannya bisa banyak, beberapa penelitian yang dilakukan di seluruh dunia telah mengamati bahwa perempuan cenderung menderita gejala buruk seperti kabut otak, rambut rontok, kelelahan, dan gangguan indra penciuman.

Penelitian di luar Italia, yang pernah menjadi episentrum wabah covid-19, juga mengamati bahwa perempuan lebih mungkin menderita manifestasi psikologis, penyakit mental, stres, insomnia, PTSD, dan kecemasan setelah sembuh dari penyakit ini. Beberapa perempuan mungkin juga mengalami masalah kesuburan dan menstruasi beberapa bulan setelah melawan virus yang sulit ini.

Baca juga: Catat! Ini Cara Mendeteksi Penyakit Long Covid-19 

3. Orang berusia di atas 50 tahun

Usia adalah salah satu faktor terbesar yang menentukan tingkat keparahan infeksi. Ini juga bisa menjadi faktor yang menentukan risiko Anda mengembangkan covid-19 jangka panjang.

Kekebalan tubuh yang lemah, atau berkurang, dan kemungkinan mengembangkan penyakit penyerta juga memperlambat waktu pemulihan. Oleh karena itu, mereka yang berusia di atas 55 tahun dapat berjuang lebih lama dalam menghadapi gejala covid-19 dengan kelelahan, nyeri tubuh, kabut otak, dan sesak napas menjadi yang paling umum.

Degenerasi dan perlambatan terkait usia juga dapat membuat lansia rentan terhadap stres, nyeri otot, serta kualitas hidup yang buruk.

4. Penderita masalah pernapasan

Sesak napas dan fibrosis paru-paru merupakan konsekuensi yang ditakuti bagi orang yang mengembangkan komplikasi covid-19, atau berjuang usai covid-19.

Juga telah dicatat bahwa orang yang melawan kondisi pernapasan seperti asma, COPD, paru-paru atau masalah pernapasan berisiko lebih tinggi terkena infeksi paru-paru parah dan gejala long covid terkait lainnya daripada orang dengan masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

Bisa juga karena alasan yang sama bahwa sesak napas dan batuk terus-menerus, pilek tetap sering dilaporkan usai gejala covid-19 bagi banyak orang.

Baca juga: Mendadak Alergi Kulit saat WFH, Ini Penyebabnya Menurut Dokter 

5. Kegemukan

Obesitas dan tingkat BMI yang tinggi meningkatkan peradangan dalam tubuh, memicu stres, dan memperlambat metabolisme. Bagi banyak orang, itu juga bisa berarti peningkatan risiko terkena masalah kesehatan seperti diabetes dan tekanan darah tinggi.

Sekarang, penelitian menunjukkan bahwa obesitas juga bisa menjadi faktor risiko berkembangnya long covid, baik itu tua maupun muda.

Penambahan berat badan yang berlebihan juga dapat memperpanjang waktu pemulihan, membuat seseorang mengalami sesak napas, dan membuat orang mengalami gejala yang berkepanjangan selama berbulan-bulan.

Oleh karena itu, obesitas dan penambahan berat badan, seperti masalah kesehatan lainnya, tidak boleh diabaikan dan dikendalikan dengan mengikuti diet yang baik serta perubahan gaya hidup.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini