Ogah Skrining, Kemenkes Takut Kasus Kanker Melonjak Usai Pandemi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 04 Februari 2021 14:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 04 481 2356419 ogah-skrining-kemenkes-takut-kasus-kanker-melonjak-usai-pandemi-JoujpgCyDN.jpg Kanker (Foto: Cleveland Clinic)

Kasus kanker di Indonesia cukup tinggi. Menurut data Globocan (2020), kasus baru kanker mencapai angka 396.914, dengan jumlah kematian lebih dari setengahnya yaitu 234.511 kasus.

Dari data tersebut, diketahui bahwa kanker payudara menjadi kelompok kanker terbanyak dengan jumlah kasus 65.858 (16,6%). Di masa pandemi dengan adanya aturan pembatasan mobilisasi, upaya skrining menjadi hal yang sulit dilakukan bagi banyak masyarakat.

 penderita kanker

Meski, alasan terbanyak perempuan enggan melakukan skrining adalah rasa tidak nyaman ketika kemaluannya diperiksa dokter.

Padahal, skrining secara rutin itu perlu dilakukan untuk memastikan tubuh Anda tidak memiliki kanker ataupun penyakit lainnya. Skrining juga sangat diperlukan bagi mereka yang sudah memiliki penyakit serius untuk memantau kestabilan kondisi kesehatan.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) mengimbau agar masyarakat tetap melakukan skrining dengan mematuhi protokol kesehatan tentunya di masa pandemi ini.

"Kami mengimbau kepada masyarakat agar tetap melakukan skrining baik itu di puskesmas, klinik, atau di rumah sakit meski situasinya sedang pandemi," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Cut Putri Arianie, di Webinar, Kamis (4/2/2021).

Ketika masyarakat tak mau skrining, Cut Putri khawatir usai pandemi ini berakhir, terjadi lonjakan kasus kanker di masyarakat. Hal itu terjadi karena tidak dilakukannya skrining secara rutin oleh masyarakat.

"Upaya mengidentifikasi secara dini penyakit dengan skrining tetap penting dilakukan di masa pandemi, ini bukan hanya untuk skrining kanker sebenarnya. Skrining bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang dekat dengan masyarakat padahal," ujarnya.

Di FKTP beberapa upaya skrining bisa dilakukan, misalnya saja skrining kanker payudara atau skrining kanker leher rahim. Namun, menjadi catatan di sini, sambung Cut, masyarakat bisa skrining di FKTP, tapi kalau membutuhkan penanganan lebih lanjut pastinya akan dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya.

"Ingat, munculnya kanker itu kadang tanpa gejala, karena itu sangat penting untuk tetap melakukan skrining di masa pandemi ini. Jika khawatir berkerumun, masyarakat bisa menggunakan fasilitas buat janji dengan tenaga kesehatan di FKTP untuk penjadwalan di waktu yang lebih luang," papar Cut.

Sebagai tambahan, Cut menjelaskan ada beberapa kelompok masyarakat yang harus rutin skrining. Mereka itu adalah:

1. Orang yang tinggal di wilayah tinggi zat berbahaya atau sangat erat dengan zat karsinogenik.

2. Orang dengan pola makan tidak sehat yang diartikan dengan mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula, garam, dan lemak.

3. Perokok aktif juga harus rutin skrining.

4. Orang dengan berat badan berlebih.

5. Orang yang jarang berolahraga atau yang lebih suka diam daripada bergerak.

"Itu merupakan faktor risiko yang dekat kaitannya dengan penyakit tidak menular dan karena itu skrining diperlukan untuk mengontrol kesehatannya," tambah Cut Putri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini