Manusia Silver Disorot Media Asing, Ungkap Kerasnya Hidup di Tengah Pandemi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 05 Februari 2021 15:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 05 612 2357117 manusia-silver-disorot-media-asing-ungkap-kerasnya-hidup-di-tengah-pandemi-5XsQMWVgC9.jpg Manusia silver (Foto: The Guardian)

Media asing The Guardian mengulik kehidupan manusia silver yang banyak ditemukan di lampu merah. Laporan mereka menjelaskan cukup detail bagaimana Jakarta dilihat dari perspektif orang jalanan.

Manusia silver dianggap bukan sekadar tren, tapi fenomena. Desakan ekonomi dan kerasnya hidup menjadi penyebab banyak orang memutuskan untuk menjadi manusia silver, tak terkecuali anak-anak.

 manusia silver

"Saat itu jam 8 malam di salah satu persimpangan tersibuk di Jakarta Barat. Tiga pria dengan cat metalik dari ujung kepala sampai kaki berdiri di jalan setapak. Masing-masing memegang kaleng perak," tulis media asing tersebut di awal berita.

Mereka mewawancarai salah seorang manusia silver, namanya Alfan, 25 tahun. Pengamatan dilakukan, mulai dari aksi cepat manusia silver bergerak ke tengah jalan saat lampu berubah jadi merah.

Alfan kemudian diam, berpose layaknya patung. Cukup lama dia diam, ada sekitar semenit. Sebelum lampu berubah menjadi hijau, dia lalu berjalan kecil mendekat ke pengemudi sepeda motor atau mobil, berharap ada yang memasukkan uang ke dalam kaleng silvernya.

Alfan melakukan aksinya tanpa alas kaki, tanpa baju. Membiarkan angin malam Jakarta menusuk tubuhnya setiap malam.

"Saya pulang kalau uang yang didapat sudah banyak. Pernah suatu hari saya dapat Rp80 ribu sebelum jam 10 malam. Kalau sudah segitu, ya, saya pulang," cerita Alfan, ayah dari dua orang anak.

Cerita Alfan hanya satu dari banyak kisah manusia silver yang bisa Anda temukan di jalanan. Apa yang terjadi pada Alfan dicatat The Guardian sebagai bentuk efek samping pandemi Covid-19.

Ya, banyak orang yang akhirnya turun ke jalan, mempelajari bagaimana hidup sebagai manusia silver untuk mendapatkan uang. Kebutuhan sehari-hari harus terpenuhi, meski pandemi terus menggerogoti.

Alfan bercerita, sebelumnya ia adalah supir angkot (full time). Tapi, karena pemasukan terus berkurang sejalan dengan tak banyaknya orang keluar rumah, ia pun memutar otak untuk mencari uang tambahan dan menjadi manusia silver adalah pilihannya.

Sementara itu, agar tubuh bisa seutuhnya silver, ada pengorbanan yang harus dirasakan. Menurut Alfan, dia harus membalur kulitnya dengan cat silver yang dicampur minyak goreng dan sedikit glitter untuk memberi kesan mengkilap.

"Sangat gatal bahkan melukai kulit saya. Mata sering menjadi merah dan hal itu kerap disangka orang-orang kami mabuk, padahal, mata kami perih karena cat yang begitu kuat langsung ke kulit dan mengiritasi," paparnya.

Sebelum pandemi, Alfan mengatakan bisa mengantongi uang per hari Rp100-150 ribu dari angkot. Tapi, karena pandemi, dia pulang ke rumah paling dengan uang Rp30 ribu per hari. Kondisi yang sangat tidak cukup untuk hidup.

"Uang segitu enggak cukup buat beli susu anak-anak saya. Jadi, supaya kami bisa hidup, ya, akhirnya saya putuskan untuk narik angkot pagi hari, malamnya jadi manusia silver," cerita Alfan.

Dia mengaku awalnya malu melakukan pekerjaan sebagai manusia silver, karena harus dilihat orang-orang tanpa baju dan berpenampilan 'aneh'. Tapi, baginya tak ada jalan lain.

"Sampai saat ini, saya belum pernah mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Saya harus melakukan ini untuk bertahan hidup. Kami tidak melakukan kejahatan; kami tidak memaksa orang untuk memberi uangnya. Kalau ada yang ngasih, ya, Alhamdulillah, kalau enggak, ya, enggak apa-apa," curhatnya.

 manusia silver

Cerita lain datang dari Desi, wanita berusia 25 tahun. Ia sebelumnya bekerja di sebuah toko, tapi karena pandemi tempatnya bekerja tutup dan akhirnya dia menganggur.

"Saya dulunya kerja di toko, tapi karena pandemi, pemilik toko memutuskan untuk mem-PHK karyawannya, termasuk saya. Alasannya, karena pemilik toko sudah tak sanggup bayar karyawannya," cerita Desi yang duduk beristirahat di bawah pohon.

Rambutnya dikuncir dua, tentu saja berwarna silver. Kerasnya hidup di Jakarta memaksanya menjadi manusia silver demi sesuap nasi. Semoga Tuhan memberikan mereka semua rejeki ya!

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini