Manusia Silver Sering Dikira Mabuk karena Matanya Merah, Ini Faktanya!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 08 Februari 2021 04:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 07 612 2357931 manusia-silver-sering-dikira-mabuk-karena-matanya-merah-ini-faktanya-8tXAMtL4hE.jpg Manusia silver (Foto: The Guardian)

Pandemi Covid-19 memaksa orang memutar otak untuk mencari pendapatan lebih sebab ekonomi semakin sulit. Salah satunya menjadi manusia silver. Padahal menjadi manusia silver itu berbahaya bagi kesehatan, salah satunya mata jadi merah dan kulit mengalami ruam.

Salah seorang manusia silver yang terpaksa melakoni pekerjaan ini demi anak istri, adalah Alfan. Ia mengaku terpaksa turun ke jalan untuk mendapatkan uang. Apalagi Kebutuhan sehari-hari harus terpenuhi, meski pandemi terus menggerogoti.

 manusia silver

Alfan bercerita, sebelumnya ia adalah supir angkot full time. Tapi, karena pemasukan terus berkurang sejalan dengan tak banyaknya orang keluar rumah, ia pun memutar otak untuk mencari uang tambahan dan menjadi manusia silver adalah pilihannya.

Sementara itu, agar tubuh bisa seutuhnya silver, ada pengorbanan yang harus dirasakan. Menurut Alfan, dia harus membalur kulitnya dengan cat silver yang dicampur minyak goreng dan sedikit glitter untuk memberi kesan mengkilap.

"Sangat gatal bahkan melukai kulit saya. Mata sering menjadi merah dan hal itu kerap disangka orang-orang kami mabuk, padahal, mata kami perih karena cat yang begitu kuat langsung ke kulit dan mengiritasi," papar Alfan.

Sebelum pandemi, Alfan mengatakan bisa mengantongi uang per hari Rp100-150 ribu dari angkot. Tapi, karena pandemi, dia pulang ke rumah paling dengan uang Rp30 ribu per hari. Kondisi yang sangat tidak cukup untuk hidup.

"Uang segitu enggak cukup buat beli susu anak-anak saya. Jadi, supaya kami bisa hidup, ya, akhirnya saya putuskan untuk narik angkot pagi hari, malamnya jadi manusia silver," cerita Alfan seperti dilansir dari The Guardian.

"Sampai saat ini, saya belum pernah mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Saya harus melakukan ini untuk bertahan hidup. Kami tidak melakukan kejahatan, kami tidak memaksa orang untuk memberi uangnya. Kalau ada yang ngasih, ya, Alhamdulillah, kalau enggak, ya, enggak apa-apa," curhatnya.

Cerita lain datang dari Desi, wanita berusia 25 tahun. Ia sebelumnya bekerja di sebuah toko, tapi karena pandemi tempatnya bekerja tutup dan akhirnya dia menganggur.

"Saya dulunya kerja di toko, tapi karena pandemi, pemilik toko memutuskan untuk mengeluarkan pekerjanya, termasuk saya. Alasannya, karena pemilik toko sudah tak sanggup bayar karyawannya," cerita Desi.

Tidak bisa terus-terusan diam, akhirnya Desi mengambil keputusan untuk jadi manusia silver. Dia mulai 'bekerja' jadi manusia silver pukul 6 sore. "Kalau datang siang, kena razia," ungkapnya singkat.

Desi sadar bahwa ada bahaya zat kimia akibat cat silver yang menempel di tubuhnya. Tapi, tuntutan hidup membuatnya harus rela menerima risiko tersebut.

"Saya mengalami ruam di kulit. Saya harus mandi dua kali setelah jadi manusia silver. Pertama dengan sabun cuci piring, karena itu satu-satunya cara untuk menghilangkan cat di kulit. Baru setelah itu mandi dengan sabun mandi," paparnya.

"Apa yang kami lakukan mungkin berbahaya untuk kesehatan, tapi kami butuh uang. Saya ada dua anak di rumah, yang pertama umurnya 3 tahun, yang satu lagi 3 bulan. Saya melakukan ini demi mereka," tambah Desi.

Di sisi lain, Kepala Dinas Sosial Jakarta Pusat, Ngapuli Peranginangin menyatakan, kehadiran manusia silver itu adalah salah satu ciri pandemi yang paling mencolok.

Karena wabah tersebut mengganggu aktivitas bisnis di Indonesia, 2,67 juta orang kehilangan pekerjaan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), menjadikan tingkat pengangguran naik menjadi 7,07 persen pada Agustus 2020, level tertinggi sejak 2011.

"Manusia silver ini mulai bermunculan di jalanan setelah pandemi. Kami belum pernah melihat mereka sebelumnya," kata Ngapuli. Sebelumnya, jumlah manusia silver terus berkurang setelah polisi melakukan penggerebekan untuk 'membereskan segalanya'.

Ngapuli melanjutkan, tak jarang polisi menemukan anak-anak menjadi manusia silver. Mereka melakukan hal tersebut atas dasar sendiri, supaya punya uang jajan kebanyakan alasannya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Mike Verawati mengatakan, anak-anak bergabung jadi manusia silver itu bukan karena kemauan mereka sendiri, tapi ada yang mengorganisir yaitu orang dewasa. "Ini eksploitasi anak," tegasnya.

Dia menegaskan, pemerintah harus bekerja sama dengan kelompok masyarakat untuk membuat program bagi anak-anak muda agar mereka tetap bisa belajar dan aktif selama pandemi, meski tidak bisa sekolah.

"Pemerintah harus ikut campur dalam situasi ini agar anak-anak tidak kembali ke jalan," saran Vera.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini