Share

Beda Parosmia dan Anosmia, Gejala Covid-19 Serang Indera Penciuman

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 08 Februari 2021 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 08 481 2358542 beda-parosmia-dan-anosmia-gejala-covid-19-serang-indera-penciuman-U0nvwXd9V0.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Pasien Covid-19 dilaporkan mengalami gejala yang berkaitan dengan indera penciuman. Ya, mereka mengalami gejala yang disebut dengan anosmia dan parosmia.

Dua hal ini sebetulnya hampir mirip, tapi jika dikenali lebih spesifik, terdapat perbedaan di antara dua gejala Covid-19 tersebut. Namun, secara garis besar keduanya menyerang indera penciuman.

Lantas, apa beda anosmia dengan parosmia?

Gangguan Penciuman

Menurut Virginia Commonwealth University (VCU), laporan studi di European Archives of Oto-Rhino-Laryngology menerangkan bahwa sebanyak 85 hingga 88 persen pasien Covid-19 mengeluhkan anosmia atau kehilangan kemampuan mencium aroma level ringan hingga sedang.

Baca Juga : Mengenal Parosmia, Gangguan Penciuman Penderita Covid-19

Profesor Emeritus di Departemen Fisiologi dan Biofisika Richard Costanzo, PhD, menjelaskan bahwa pasien Covid-19 bisa saja mengalami anosmia sebagai gejala awal.

"Bisa saja orang datang dengan gejala ini saat terkonfirmasi Covid-19. Tapi, sampai saat ini belum ada cukup bukti ilmiah. Meski begitu, ada hubungan yang jelas antara infeksi Covid-19 dengan hilangnya kemampuan mencium bau," terangnya.

Baca Juga : Fakta-Fakta Parosmia, Gejala Baru Covid-19 yang Ganggu Penciuman

Profesor Constanzo menjelaskan bahwa gejala anosmia tidak melulu berarti Covid-19. Sebab, sebagian besar lansia mengalami anosmia karena faktor usia.

"Semakin bertambahnya usia, kemampuan indera pencium pun menurun," tambahnya.

Gangguan Penciuman

Sementara itu, ketika anosmia mulai membaik, Profesor Evan Reiter, MD, dari Departemen Otolaryngology-Head and Neck Surgery, ada risiko komplikasi yang bisa saja terjadi.

"Risiko komplikasi setelah anosmia membaik ialah distorsi penciuman atau yang biasa disebut parosmia. Karena sebelumnya terjadi gangguan di saraf penciuman, itu membuat otak tak bisa langsung memperbaiki saraf dan membuat Anda kesulitan mengenali aroma," papar Prof Reiter.

Pada beberapa kasus, karena mengalami kondisi tersebut, pasien Covid-19 jadi kehilangan nafsu makan. Itu terjadi karena makanan yang akan dimakan baunya selalu busuk, padahal itu bukan aroma sesungguhnya.

Kemudian, apa itu parosmia?

Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan kepala leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada, dr Anton Sony Wibowo, SpTHT-KL, MSc, FICS, menerangkan bahwa parosmia adalah gejala gangguan penghidu atau penciuman yang membuat seseorang merasa membau secara berbeda dari seharusnya.

"Pasien dengan parosmia mempersepsikan bau yang tidak sesuai dengan kenyataannya," kata dr Anton, dikutip dari laman resmi UGM.

Parosmia

Misalnya, membau bunga mawar seharusnya harum, tetapi pasien mempersepsikan dengan bau yang lain seperti bau tidak enak atau bau lainnya. Dokter Anton menjelaskan persepi bau yang muncul akibat parosmia beragam, hal itu berbeda dengan gangguan penciuman cacosmia yang membuat seseorang membau tidak enak secara terus menerus.

Dosen FKKMK UGM ini mengatakan gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien Covid-19 di luar negeri. Dalam beberapa penelitian di luar negeri diketahui kemunculan parosmia cukup banyak berkisar antara 50,3 hinga 70 persen. Sementara di Indonesia penelitian terkait parosmia belum banyak dilakukan.

Parosmia dapat terjadi pada pasien Covid-19 akibat virus SARS-Cov2 memengaruhi jalur proses penciuman seseorang. Hal tersebut bisa dari reseptor saraf penciuman (saraf kranial 1), saraf penciuman, atau sampai dengan pusat persepsi saraf penciuman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini