Sering Disakiti Pacar Tetap Enggak Mau Putus, Ini Penjelasan Dokter Jiemi Ardian

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 10 Februari 2021 04:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 09 612 2359319 sering-disakiti-pacar-tetap-enggak-mau-putus-ini-penjelasan-dokter-jiemi-ardian-Q8vsLkUQy2.jpg Pacar sering menyakiti (Foto: Huffpost)

Pernahkah Anda melihat seseorang yang sering disakiti pacar namun tetap bertahan bahkan enggak mau putus? Atau mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya?

Biasanya, orang yang bertahan dalam suatu toxic relationship kerapkali disebut sebagai bucin alias budak cinta. Namun Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Dokter Jiemi Ardian mengatakan, seseorang yang bertahan di siklus tersebut bukanlah sosok yang bucin melainkan ia mengalami trauma bonding.

Trauma bonding melekat antara pelaku abuse (yang menyerang) dan si korban karena siklus abuse fisik dan emosional. Mengapa bisa nempel? Karena di antara waktu abuse ada saat di mana pelaku seperti menunjukkan kasih sayangnya dengan tulus seakan dirinya adalah orang yang sangat baik.

Mengutip akun Instagram Dokter Jiemi Ardian, berikut alasan mengapa mereka yang disakiti pasangan (korban) masih ingin bertahan dan tak bisa move on dalam hubungan cinta dengan pelaku abuse.

 korban kekerasan pacar

1. Mengalami love bombing

Ada beberapa tahapan terjadinya trauma bonding, yang pertama adalah love bombing. Di tahap awal, pelaku akan menghujani korban dengan berbagai bentuk cinta. Misalnya dengan perhatian berlebih, komunikasi yang sangat intens, memberikan klaim soal soulmate, dan memberikan semua yang korban butuhkan. Seakan dirinya adalah sosok malaikat yang sempurna.

2. Kepercayaan

Setelah memberikan semua kebaikan di awal maka, perlahan pelaku akan mendapat kepercayaan dari korban. Lalu kebutuhan korban akan validasi dan kasih sayang (yang selama ini dipenuhi keluarga dan teman) seakan hanya dia yang bisa memenuhi. Akhirnya, korban pun bergantung padanya dan mulai menjauh dari orang lain yang biasanya memberikan bonding seperti keluarga dan teman.

3. Kritik

Begitu pelaku sudah mendapatkan kepercayaan, maka korban pun mulai ketergantungan, lalu sifat asli pelaku yang abusive akan muncul. Ia akan menjadi pribadi yang suka mengkritik, menyalahkan, bahkan menuntut. Akan tetapi, karena korban sudah tidak sadar akibat ketergantungan, korban malah merasa dirinya yang salah.

4. Mengontrol

Korban sebenarnya jadi ragu akan persepsi dan pendapatnya sendiri. Namun juga masih membutuhkan perhatian dan cintanya. Masalahnya, untuk mendapatkan perhatian yang ada di tahap 1 tadi, korban harus terus melakukan apa yang diinginkan pelaku. Akibatnya, korban pun mulai menyerahkan semua kontrol kepadanya.

5. Kehilangan diri sendiri

Ketika korban sadar dan mulai melawan, pelaku abuse pun menjadi agresif dan kondisi hubungan pun memburuk. Korban pun mulai mengalah dan melakukan apapun hanya sekedar biar enggak berantem, atau biar konflik cepat selesai. Korban takut membuat ia marah, lalu korban pun semakin tidak percaya diri yang pada akhirnya Anda kehilangan diri sendiri.

6. Ketergantungan

Korban sejatinya tahu sedang berada dalam masalah ini, namun tidak bisa keluar karena sudah ketergantungan padanya. Ketika konflik mereda dan sayang-sayangan lagi, rasanya melegakan. Tapi sesaat kemudian, perkelahian akan datang lagi dan begitu seterusnya.

Jika sudah seperti ini, Dokter Jiemi Ardian pun menyarankan agar hubungan tersebut diakhiri, korban wajib meninggalkan pelaku abuse!

"Anda perlu mendapat kasih sayang dan perhatian yang wajar dari teman dan keluarga. Ini memang bukan hal yang mudah, tetapi lebih baik sendiri daripada terus disakiti dan kehilangan diri sendiri," ujarnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini