D-dimer pada Pasien Covid-19 Ramai Dibahas, Apa Sih Itu?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 11 Februari 2021 08:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 11 481 2360237 d-dimer-pada-pasien-covid-19-ramai-dibahas-apa-sih-itu-xAuvkvJtNN.jpg Ilustrasi pasien Covid-19 (Foto : Shutterstock)

Pembahasan mengenai D-dimer ramai di media sosial. Tokoh negara seperti Dahlan Iskan bahkan memiliki istilah sendiri untuk D-dimer yaitu 'cendol-cendol'.

D-dimer sendiri merupakan fragmen protein yang muncul saat bekuan darah larut dalam tubuh. Dalam kondisi normal tubuh memiliki mekanisme untuk melakukan pembekuan dan pengenceran darah.

Diterangkan Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Primaya Bekasi Utara, dr M.Irfan,Sp.PD, penyebab D-dimer salah satunya adalah reaksi imunitas. Pada kasus Covid-19 misalnya, saat infeksi terjadi, virus SARS-CoV2 akan menyebabkan gangguan pembekuan darah atau koagulopati.

Baca Juga : COVID-19 Bisa Sebabkan Pembekuan Darah, 4 Hal Ini Harus Anda Ketahui

Tapi, sambung dr Irfan, D-dimer tidak hanya khusus ada pada pasien Covid-19. Ada beberapa kelompok pasien lain yang mengalami kenaikan kadar D-dimer ini.

Batuk

"D-Dimer ini memang banyak diperiksa pada pasien yang terinfeksi Covid-19, tapi peningkatan kadar D-dimer tidak spesifik hanya untuk trombosis (penyumbatan), tetapi bisa ditemui juga pada kasus kanker, peradangan atau infeksi berat, pascaoperasi, pendarahan baru, payah jantung, penyakit hati, gagal ginjal, kehamilan, dan usia lanjut," terang dr Irfan pada Okezone melalui pesan singkat, Kamis (11/2/2021).

Baca Juga : Seksinya Celine Evangelista Pamer Belahan Dada, Intip 5 Fotonya!

Munculnya D-dimer bisa menyebabkan pasien Covid-19 sesak napas. Ini memberi jawaban bagi Anda yang bertanya-tanya, mengapa banyak pasien Covid-19 mengalami sesak napas.

Dokter Irfan menerangkan bahwa sesak napas tersebut menjadi salah satu penanda bahwa tubuh Anda memiliki kadar D-dimer yang tinggi.

"D-dimer bisa diukur dengan pemeriksaan laboratorium. Namun, untuk memprediksi kemungkinan terjadinya sumbatan di pembuluh darah, secara klinis dapat dikenali melalui gejala berupa nyeri dada, sesak napas, pembengkakan dan kemerahan sebelah kaki secara tiba-tiba, dan kelemahan sebelah sisi anggota gerak," ungkap dr Irfan.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini