Psikolog: Promosi Nikah Anak Aisha Wedding Rentan Doktrinasi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 11 Februari 2021 14:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 11 612 2360452 psikolog-promosi-nikah-anak-aisha-wedding-rentan-doktrinasi-Ch6nUh8gAL.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Aisha Wedding menjadi polemik. Promosi pernikahan anak yang mereka tawarkan mencoreng Undang-Undang Perkawinan di Indonesia.

Di website Aisha Wedding yang sekarang sudah tidak aktif, mereka menuliskan keterangan yang sangat meresahkan. Tidak hanya itu, website tersebut membawa embel-embel agama tertentu.

"Semua wanita muslim ingin bertaqwa dan taat kepada Allah SWT dan suaminya. Untuk berkenan di mata Allah dan suami, Anda harus menikah pada usia 12-21 tahun dan tidak lebih.

pernikahan dini

Jangan tunda pernikahan karena keinginan egoismu, tugasmu sebagai gadis adalah melayani kebutuhan suamimu. Anda harus bergantung pada seorang pria sedini mungkin untuk keluarga yang stabil dan bahagia. Jangan menjadi beban bagi orangtua Anda, temukan pria lebih awal!"

Baca Juga : Heboh Aisha Wedding Promosikan Pernikahan Anak, Ini Kata Psikolog

Begitu bunyi ajakan Aisha Wedding yang kontroversial. Kalimat tersebut membuat publik geram, bahkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sampai dibuat kesal. Promosi yang sangat keliru.

Menyikapi hal ini, Psikolog Meity Arianty khawatir bahwa pesan seperti yang disampaikan Aisha Wedding dapat menjadi doktrinasi yang menguntung pihak-pihak tertentu, dalam hal ini pengelola Aisha Wedding yang sampai sekarang belum diketahui identitasnya.

"Yang begini rentan doktrinasi yang menguntungkan ketua atau petinggi Aisha Wedding dan yang dikorbankan anggota dan orang-orang yang enggak punya pendidikan atau pemahaman yang luas," ucapnya pada Okezone melalui pesan singkat, Kamis (11/2/2021).

Mei menerangkan, masyarakat dengan pendidikan atau pemahaman minim terkait perkembangan atau psikologis anak dan pengetahuan yang rendah tentang agama akan sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal semacam ini.

"Apalagi kalau yang bersangkutan membawa-bawa agama yang dasar kebenarannya juga masih dipertanyakan," sambungnya.

pernikahan dini

Karena itu, Mei menyarankan agar masyarakat tidak menelan mentah-mentah informasi seperti ini. Masyarakat harus pandai melihat, mendengar, dan memahami apa yang ada di masyarakat saat ini. Jangan mudah terpengaruh apalagi yang 'menggunakan agama'.

"Ada baiknya cari tahu dulu dan bertanya jika enggak tahu. Sekali lagi, jangan mudah terpengaruh oleh oknum tak bertanggung jawab," tambahnya.

Kasus ini menurut Mei cukup meresahkan masyarakat, jadi sebaiknya laporkan jika dirasa mengganggu, agar pihak berwajib memeriksa apa motif yang bersangkutan menyebarkan isu-isu seperti itu, jadi bisa diketahui motif dan dasar pemikirannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini