Bukan Kopi Luwak, Inilah Kopi Termahal di Dunia Harganya Rp13 Juta/Kg

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 18 Februari 2021 06:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 17 298 2363831 bukan-kopi-luwak-inilah-kopi-termahal-di-dunia-harganya-rp13-juta-kg-2RAO2TJQCE.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KOPI Burung Jacu adalah salah satu varietas kopi terlangka dan termahal di dunia. Minuman nikmat ini terbuat dari buah kopi yang dicerna, dan dikeluarkan melalui kotoran burung Jacu.

Dengan luas tanah sekira 50 hektar, Camocim Estate menjadi salah satu perkebunan kopi terkecil di Brasil. Uniknya mereka berhasil meraup keuntungan yang cukup besar berkat jenis kopi yang sangat unik dan banyak dicari oleh masyarakat.

Semuanya dimulai pada awal 2000-an, ketika Henrique Sloper de Araújo terbangun dan menemukan bahwa perkebunannya telah dibanjiri oleh burung Jacu. Sekadar informasi, burung jacu adalah spesies burung yang terancam punah dan dilindungi di Brasil.

Mereka tidak dikenal sebagai penggemar kopi ceri, tetapi tampaknya hewan ini menyukai kopi organik de Araújo. Pada awalnya, Henrique Sloper de Araújo sangat ingin mengusir burung-burung itu dari perkebunannya.

kopi

Ia bahkan menelepon polisi lingkungan tentang hal itu. Tetapi tidak ada yang bisa dilakukan siapa pun untuk membantu. Burung itu dilindungi undang-undang, jadi tidak ada yang bisa menyakiti mereka dengan cara apapun.

Tapi kemudian ide lain muncul di kepalanya dan seketika keputusasaan berubah menjadi kegembiraan. Sekadar informasi, saat masih muda, Sloper adalah seorang peselancar yang aktif, dan gemar mencari ombak untuk ditunggangi.

Melansir dari Oddity Central, ia pernah menuju Indonesia, di mana diperkenalkan dengan kopi luwak, yang menjadi salah satu kopi termahal di dunia. Kopi tersebut terbuat dari biji kopi yang dipanen dari kotoran hewan.

Musang Indonesia ini memberi Sloper ide. Jika orang Indonesia bisa memanen buah kopi dari kotoran musang, ia pun berpikir bisa melakukan hal yang sama dengan kotoran burung Jacu.

kopi

“Saya menyadari dapat mencoba sesuatu yang serupa dengan Camocim dan burung Jacu, tetapi ide itu hanya setengah dari kenyataan. Tantangan sebenarnya terletak pada meyakinkan para pemetik kopi bahwa mereka harus berburu kotoran burung,” terangn Sloper.

Selain itu Sloper juga harus mengubah perburuan kotoran burung Jacu menjadi perburuan harta karun bagi para pekerja. Ia memberi para pekerja insentif finansial untuk menemukan sejumlah biji kopi dari kotoran burung.

Tidak ada cara lain untuk mengubah pola pikir mereka selain cara ini. Tapi mengumpulkan kotoran burung Jacu hanyalah awal dari proses panjang yang sangat melelahkan.

Biji kopi kemudian harus dikeluarkan dari kotorannya dengan tangan, dicuci, dan dikupas dari selaput pelindungnya. Pekerjaan melelahkan inilah yang membuat kopi burung Jacu jauh lebih mahal daripada jenis kopi lain

Sloper memuji burung Jacu atas rasa yang luar biasa dari kotorannya. Sebab burung ini hanya memakan kopi ceri yang paling matang mereka temukan. Ini merupakan sesuatu yang dia amati secara langsung.

“Saya melihat dengan mulut ternganga dari ruang tamu, saat burung Jacu memilih hanya buah beri yang paling matang. Mereka menyisakan lebih dari setengahnya, bahkan yang terlihat sempurna untuk mata manusia,” lanjutnya.

burung

Berbeda dengan kopi luwak yang dicerna oleh musang Indonesia, biji kopi dari burung jacu bergerak lebih cepat melalui sistem pencernaan. Mereka tidak terdegradasi oleh protein hewani atau asam lambung.

Buah ceri yang dihasilkan dari kotoran burung jacu disangrai, dan diminum. Kabarnya kopi ini memiliki rasa yang unik, seperti kacang dengan nuansa adas manis.

Karena kualitas dan kelangkaannya, kopi burung Jacu adalah salah satu varietas kopi termahal di dunia. Minuman ini dijual dengan harga sekira USD1.000 atau Rp13,9 juta per kilogram.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini