Duh, Rutin Gowes Tapi Asal-asalan Berisiko Cyclist's Palsy!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 17 Februari 2021 20:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 17 612 2363801 duh-rutin-gowes-tapi-asal-asalan-berisiko-cyclist-s-palsy-2J9FddIecD.jpeg

HOBI gowes banyak dipilih masyarakat di masa pandemi seperti sekarang. Selain seru bisa keluar rumah tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, Anda juga bisa mendapatkan manfaat kesehatan.

Tapi, apakah Anda tahu bahwa ada risiko yang dihadapi mereka yang gowes tapi asal-asalan, salah satunya dapat dikenali dengan tidak memerhatikan postur tubuh, termasuk pegangan tangan.

Ya, penyakit Cyclist's Palsy menjadi risiko yang cukup mengkhawatirkan. Dijelaskan Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan Hand and Microsurgery RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, dr Oryza Satria, SpOT (K), penyakit itu dapat dikenali saat dan setelah bersepeda Anda merasa jari manis dan kelingking tidak nyaman.

"Kondisi tersebut terjadi karena ulnar nerve atau saraf yang mempersarafi kelingking dan jari manis dan melewati pergelangan tangan melalui sebuah terowongan (Guyon canal), tertekan akibat terlalulama berpegangan dengan handle bar," papar dr Oryza.

sepedaan

Pada beberapa kasus, kondisi tersebut juga dikenal dengan Guyon canal syndrome. Nah, jika kasusnya terjadi pada pesepeda, penyakit itu dinamakan Cyclist's Palsy. Kondisi ini kerap disamakan dengan CTS (carpal tunnel syndrome). Namun, sebenarnya terdapat perbedaan antar keduanya.

Gejala CTS terjadi pada ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis, sementara gejala cyclist’s palsy hanya pada jari manis dan kelingking saja. Gejalanya juga spesifik terjadi saat atau setelah Anda bersepeda. Anda akan mengalami kebas, kesemutan, nyeri, kram, atau kelemahan pada kedua jari Anda.

"Hal ini dapat mengakibatkan kekuatan genggaman menjadi lemah. Gejala ini pun akan berbeda-beda pada setiap orang, tergantung tingkat keparahannya," tambahnya.

Gangguan sensorik seperti kesemutan dan mati rasa pada jari manis dan jari kelingking akan terasa dan mudah hilang 1 – 2 hari setelah bersepeda.

Sementara gejala motorik yang tampak, antara lain jari kelingking dan jari manis yang sulit diluruskan (claw hand), massa otot di antara ibu jari dan telunjuk terlihat kempes, serta kesulitan melebarkan dan menutup jari-jari (melakukan gerakan abduksi dan aduksi jari, hingga dapat menimbulkan cedera berat sampai adanya abnormalitas.

"Cyclist’s palsy biasanya muncul ketika bersepeda dalam jangka waktu lama. Apalagi ketika Anda bersepeda menuruni bukit, sebagian besar bobot tubuh akan ditopang oleh tangan dan menyebabkan adanya beban yang lebih tinggi di jari-jari tangan Anda," katanya.

sepedaan

"Apabila gejala cyclist’s palsy berlanjut dan tidak ditangani, maka selain menyebabkan gejala di atas, juga dapat menjadi kondisi yang permanen dan carpal tunnel syndrome," ujar dr Oryza.

"Perawatan cedera persarafan dapat memakan waktu berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Apabila tidak ditangani segera, cedera atau abnormalitas dapat menjadi permanen. Oleh karena itu, penting sekali memeriksakan diri ke dokter spesialis bedah ortopedi konsultan hand & microsurgery agar penanganan yang dilakukan dapat dilakukan sedini mungkin," sarannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini