Kementerian PPPA Luncurkan Program SRA, Ajak Masyarakat Cegah Perkawinan Anak

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 19 Februari 2021 15:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 612 2364899 kementerian-pppa-luncurkan-program-sra-ajak-masyarakat-cegah-perkawinan-anak-zAJYPOKLzk.jpg Anak itu masanya bermain dan belajar, bukan menikah (Foto: Healthline)

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA), anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih berada di dalam kandungan.

Jumlah anak di Indonesia sebesar 80 juta orang. Artinya 30 persen penduduk Indonesia adalah anak. Dengan jumlah populasi yang cukup besar, anak merupakan investasi bangsa yang dapat dibentuk menjadi manusia yang mampu berdaya saing.

 perkawinan anak

Sayangnya, di Indonesia masih terdapat banyaknya perkawinan anak. Indonesia menetapkan batas usia menikah adalah 19 tahun atau lebih. Tetapi pada kenyataanya, banyak anak yang menikah di bawah umur, bahkan saat masih berusia 12 tahun.

Karena banyaknya risiko yang bisa terjadi dari perkawinan dini, Kementerian PPPA sedang mengupayakan agar perkawinan anak dapat dicegah. Salah satunya adalah melalui program Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA).

"SRA merupakan satuan pendidikan formal, non formal, dan informal yang mampu memberikan pemenuhan hak dan perlindungan khusus bagi anak termasuk mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di satuan pendidikan," jelas Deputi Menteri PPPA Bidang Pemenuhan Hak Anak Kemen PPPA Lenny N. Rosalin dalam webinar Pencegahan Perkawinan Anak pada Jumat (19/2/2021).

Adapun program SRA untuk mencegah perkawinan anak adalah karena ini merupakan model satuan pendidikan yang memastikan setiap anak secara inklusif berada dalam lingkungan yang aman, nyaman secara fisik, sosial, psikis, dan dapat hidup tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai fase perkembangannya serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Selain itu SRA juga mengikutsertakan orangtua agar memiliki tanggung jawab bersama dengan satuan pendidikan untuk menjaga anak berproses dalam dunia pendidikan.

SRA pun memegang prinsip tanpa kekerasan dan diskriminasi. Ini berarti mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak, memperhatikan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, penghargaan terhadap pendapat dan partisipasi anak.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini