Tanggulangi Banjir, Tak Cukup dengan Pengelolaan Sampah Semata

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Selasa 23 Februari 2021 21:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 23 612 2367010 tanggulangi-banjir-tak-cukup-dengan-pengelolaan-sampah-semata-SCBbXo3NpG.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

JAKARTA dan kota terdekat di sekitarnya dilanda banjir pada akhir pekan lalu. Perlu diingat, bahwa menanggulangi banjir tak cukup dengan pengelolaan sampah saja loh!

Masih banyak warga Jakarta yang suka membuang sampah ke sungai. Perilaku ini sebenarnya tidak patut karena bisa merusak lingkungan.

Pengelolaan sampah yang tepat sangatlah penting. Anda perlu mengubah mindset dan perilaku untuk mengurangi timbulan sampah baru.

Sebab selain banjir, dampak dari timbulan sampah juga mengakibatkan bencana lainnya. Longsor juga bisa terjadi yang memakan korban jiwa.

Dijelaskan Direktur Kemitraan Lingkungan (Ditjen PSKL) Jo Kumala Dewi, pada 2005 ada suatu peristiwa yang menggunggah. Di salah satu TPA di Bandung, Leuwigajah, terjadi suatu bencana longsor yang memakan banyak jiwa. Di situlah manusia merasa ditegur.

"Saat itu terjadi bencana alam dan memmbuat kita sadar. Lalu perlu satu penanganan khusus untuk menangani sampah. Misal kalau dulu buang kulit pisang ke halaman, gali lubang, kenapa kok kita sekarang enggak bisa," terangnya saat webinar Jaga Gizi Jaga Bumi, baru-baru ini.

Indonesia kini dihuni 270 orang. Lahan semakin terbatas, tapi sampah bisa semakin banyak, apalagi sampah dari hasil aktivitas.

 sampah

"Maka bersama-sama kita ngobrol, kita semua hari ini memikirkan bagaimana penanganan sampah," katanya.

"Membuang sampah ada tempatnya, pernahkah Anda beripikir sampah yang dibuang dan berakhir di muka bumi ini gimana prosesnya?," sambungnya.

Disebutkannya, Indonesia kini menduduki peringkat 2 penghasil sampah terbanyak. Terbanyak adalah sampah plastik dan siapapun kini berperan untuk mengurangi 30 persen timbulan sampah hingga 2035.

"Seluruh warga masyarakat ini mulai mengubah paradigma berpikir, bahwa sampah yang kita hasilkan itu bukan hanya dikelola, tapi yang perlu sekali dilakukan adalah mengubah mindset kita, bagaimana mengurangi sampah," tuturnya.

Meski, menurutnya, mengubah perilaku seperti itu agak sulit. Dahulu Anda diperingatkan jangan buang sampah sembarangan. Tapi sekarang bukan itu lagi, kini saatnya Anda mengurangi sampah dan memilah sampah.

"Karena kontribusinya akan banyak, jangan hanya dilihat angka dan pengelolaan, tapi bgmana mengurangi jejak resources sumbernya," imbuhnya.

Ditegaskan Jo, permasalah sampah di Indonesia sangat multidimensi. Ketika sampah bisa didaur ulang, tentu bisa menghasilkan nilai ekonomi.

Misalnya di sederet outlet besar, minimarket, hingga supermarket, sudah ada pengurangan kantung plastik. Namun masalah lain timbul lagi, di era pandemi ini banyak anak muda suka belanja makanan online.

"Timbullah sampah dari pesanan makanan online tadi. Jumlah meningkat, misal wadah makan box hingga styrofoam.

"Oleh karena itu, berbagai inisiatif itu melakukan kerja sama dengan produsen. tapi inisiatif ini terkendala apabila masyarakat atau generasi muda tidak melakukan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini