Derita Penyintas Covid-19, Kehilangan Penciuman Setahun Penuh

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 24 Februari 2021 13:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 24 481 2367513 derita-penyintas-covid-19-kehilangan-penciuman-setahun-penuh-TVGkWukIvs.jpg Kehilangan penciuman (Foto: UAB)

Penyintas Covid-19 harus berjuang melawan penyakit lanjutan yang mungkin muncul usai sembuh. Salah satunya yang disebabkan oleh hilangnya kemampuan indera penciuman atau anosmia.

Seperti yang dialami Gabriella Forgione. Perempuan berusia 25 tahun itu mengeluh tak mampu mencium bau sejak November 2020, saat dirinya pertama kali terkonfirmasi Covid-19. Bukan hanya itu, indera pengecapnya pun belum bekerja dengan baik.

 penyintas Covid-19

Efek dari hilangnya dua kemampuan indera tersebut memberi dampak negatif di hidup Gabriella. Ya, dirinya kehilangan nafsu makan yang berarti dan kepercayaan dirinya merosot tajam.

"Kadang saya bertanya pada diri sendiri, apakah tubuh saya sekarang bau? Karena saya benar-benar tidak bisa mencium bau tersebut," curhat Gabriella, dikutip dari New York Post.

"Saya adalah orang yang suka sekali dengan wewangian, dan karena Covid-19 hidup saya terganggu," tambahnya.

Sementara itu, setahun lebih sudah pandemi Covid-19 menyerang manusia. Dokter dan peneliti pun sampai saat ini masih berusaha untuk lebih memahami dan mengobati epidemi yang menyertai anosmia terkait Covid-19 .

Bahkan, dokter spesialis mengatakan bahwa ada banyak kondisi yang masih belum diketahui dan dokter maupun peneliti masih mempelajari seiring berjalannya waktu dan diagnosis dan perawatan yang diberikan.

Kerusakan indera penciuman telah menjadi hal yang khas pada Covid-19 sehingga beberapa peneliti menyarankan bahwa tes bau sederhana dapat digunakan untuk skrining dini, melacak kasus infeksi virus di negara yang memiliki laboratorium sedikit.

Bagi kebanyakan orang, masalah penciuman bersifat sementara, seringkali membaik dengan sendirinya dalam waktu seminggu tanpa perlu pengobatan. Tapi, di beberapa kasus pasien tetap mengeluhkan disfungsi tersebut meski sudah dinyatakan sembuh.

"Pada beberapa kasus, hilangnya bau ini bertahan 6 bulan lamanya setelah infeksi pertama kali menyerang. Yang paling lama, kata banyak dokter, dialami selama satu tahun penuh," tulis laporan tersebut.

Masalah ini memicu kekhawatiran dokter bahwa tingkat depresi meningkat. "Mereka kehilangan bagian dari hidupnya," kata Dr Thomas Hummel dari University Hospital di Dresden, Jerman.

"Orang-orang ini punya masa depan yang cerah, tapi kemampuan menciumnya hilang dan itu membuat diri mereka merasa tak sempurna," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini