Nissa Sabyan Dihujat Netizen, Psikolog: Hal Itu Tak Membantu Istri Sah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 24 Februari 2021 10:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 24 612 2367344 nissa-sabyan-dihujat-netizen-psikolog-hal-itu-tak-membantu-istri-sah-H3igrPo6Z1.jpg Nissa Sabyan (Foto: Inst )

Nissa Sabyan menjadi bulan-bulanan kemarahan netizen karena kasus perselingkuhannya dengan Ayus Sabyan. Tak sedikit dari netizen sampai menghina penyanyi gambus tersebut secara terbuka di media sosial.

Psikolog Meity Arianty menyadari bahwa ada persepsi yang diamini masyarakat bahwa dengan menghina pelaku perselingkuhan itu adalah bentuk dukungan untuk korban. Semakin keras hinaan diberikan ke pelaku perselingkuhan, korban akan merasa terwakili perasaannya.

 Nissa Sabyan

Namun, persepsi itu dinilai tak benar bagi Mei. Menurut dia, itu malah akan memicu rasa kebencian istri sah kepada suaminya. Di sisi lain, mereka tetap harus membesarkan anaknya bersama karena bagaimana pun anak tidak boleh menjadi korban dari perselingkuhan orangtuanya.

"Masyarakat kita sangat mudah tersulut emosi kalau sudah berurusan dengan kasus perselingkuhan," terang Psikolog Klinis Meity Arianty pada Okezone, Rabu (24/2/2021).

Hal yang sangat disayangkan, sambung Mei, netizen seringkali memposisikan dirinya sebagai sang istri atau korban dan bahkan bisa berlaku lebih sadis dari istri yang bersangkutan. Sehingga yang terjadi di masyarakat bukannya membuat suasana lebih tenang, malah kebalikannya.

"Perlu dicatat oleh semua, kemarahan kita, tudingan kita, caci makian kita ke pelaku perselingkuhan itu malah membuat sang istri jadi diliputi kemarahan dan rasa dendam," kata Mei.

Lebih lanjut, menurut Mei, netizen itu suka enggak sadar jika yang mereka lakukan justru bukan membela dan menguatkan sang istri tapi malah membuat sang istri makin sedih, marah, terpuruk, dan menyimpan dendam padahal mereka punya anak. Jadi malah tidak membantu ya.

"Sadar enggak, dalam situasi perselingkuhan, sang istri harus lebih kuat untuk anak-anak mereka karena biar gimana pun sang istri harus membantu psikologis anak-anak mereka untuk enggak membenci ayahnya," ujarnya.

Mei melanjutkan, setiap kali menghadapi kasus perselingkuhan dirinya sering mengatakan bahwa saat perselingkuhan terjadi, maka kedua belah pihak, yaitu suami dan istri, memiliki kontribusi yang sama besarnya.

Nah, ketika kasus perselingkuhan itu sudah jadi konsumsi publik, biasanya masyarakat akan sibuk menyalahkan 'pelakor', dia dianggap orang paling bersalah, paling jahat, dan tidak ada ampun.

"Padahal, sadarkah kita bahwa kita enggak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi dalam pernikahan itu. Lantas, kok kita merasa paling tahu kebenarannya dan menghakimi secara membabi buta. Kalian jangan merasa paling tahu," ungkap Mei.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini