Manfaat Terapi Oksigen Hiperbarik bagi Pasien Covid-19

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Kamis 25 Februari 2021 11:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 481 2368035 manfaat-terapi-oksigen-hiperbarik-bagi-pasien-covid-19-Gd5V1B9cYD.jpg Pasien Covid-19 (Foto: Reuters)

Di tengah pandemi Covid-19 pemerintah terus berjuang menurunkan angka positif Covid-19. Banyak pasien Covid-19 juga terus mengusahakan kesembuhannya dengan mencoba berbagai metode penyembuhan.

Salah satunya membantu penyembuhan dengan terapi oksigen hiperbarik, yang merupakan salah satu metode pengobatan melalui proses oksigen murni di dalam ruangan khusus bertekanan udara tinggi.

 terapi oksigen hiperbarik

"Prinsip terapi pengobatan adalah membantu kinerja organ tubuh guna memperbaiki jaringan yang rusak dengan meningkatkan kapasitas aliran oksigen murni ke jaringan tubuh," ujar Dokter Siloam Hospitals Manado, Dr.dr Mendy Habitie Oley SpBP-RE, Kamis (25/2/2021).

Dokter Mendy menjelaskan, dalam pengembangan fungsi lainnya, terapi oksigen hiperbarik ini mampu membantu penyembuhan bagi pasien yang terpapar virus corona termasuk penyakit lainnya, seperti decompression sickness, infeksi, kronis, diabetes, luka terbakar, penyakit pendengaran, migrain, neuro, cancer, dan lainnya.

Namun perlu diperhatikan kondisi pasien sebelum menjalani terapi ini, antara lain fobia akan ruangan tertutup, asma, demam, paru kronis, kelainan sel darah merah, gangguan pada tuba eustachius, juga pneumothorax yang belum terobati.

Menurut Dokter Mendy, terapi hiperbarik pasien Covid-19 bisa dikenakan untuk pasien Covid 19 yang penularannya melalui droplet respirasi dengan gejalanya tanpa gejala alias OTG. Ringan tanpa bukti pneumonia, gejala sedang yakni tidak ada pneumonia berat, gejala berat dengan pneumonia berat, kritis seperti ARDS, sepsis, syok sepsis.

"Berdasarkan hal tersebut, terapi oksigen hiperbarik salah satu cara atau bagian farmakologis, yaitu pemberian instalasi oksigen dengan konsentrasi 100 persen pada tekanan lebih dari 1 atmosfer absolut ( 1.5 - 3.0 ATA)," tambah Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Christian Kawengian Sp.PD.

Dokter Christian menjelaskan, berdasarkan study case series yang dilakukan, terapi oksigen hiperbarik pada pasien Covid 19 mampu menghasilkan peningkatan oksigenasi jaringan, anti inflamasi, modulasi stem cell, efek anti platelet/ anti trombotik, penurunan jumlah virus akibat ROS.

"Sementara selama terapi tersebut yang dipantau adalah EKG, Okumetriz, temperatur, tekanan darah, POZ, tekanan Cuff ETT dan tentunya AED dan paddle atau efek terbakar," tuturnya.

Namun, lanjut Dokter Christian, ada efek samping terapi ini di antaranya, pulmonar (iritasi takeobronkial), neurologis seperti gangguan visual, telinga berdenging, pusing, disorientasi, kejang. Jadi tetap harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat dan benar.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini