WHO Sebut Kasus Covid-19 Global Turun, Epidemiolog: Jangan Samaratakan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 25 Februari 2021 16:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 481 2368264 who-sebut-kasus-covid-19-global-turun-epidemiolog-jangan-samaratakan-2TCG0GiBCJ.jpg Ilustrasi (Foto : Freepik)

Beberapa waktu lalu World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa tren kasus Covid-19 secara global menurun secara dramatis. Penurunan terjadi hingga 16 persen yang artinya sangat signifikan.

Melihat tren penurunan kasus Covid-19 global, Kolumnis Kesehatan, Martin Makary memprediksi sebagian besar penyakit Covid-19 bakal hilang pada April 2021. Pernyataan ini diberikan berdasarkan data laboratorium, matematika, literatur, dan percakapannya dengan para ahli.

Covid-19

Lantas apakah Covid-19 bakal hilang dalam waktu dekat? Epidemiolog Universitas Griffith Australia, dr. Dicky Budiman mengatakan masyarakat harus melihat kembali data bahwa memang betul terjadi penurunan kasus Covid-19 secara global.

Meski demikian, ia mengimbau masyarakat juga harus kristis dan mencermati mengapa, bagaimana, dan kenapa tren Covid-19 secara global ini bisa menurun.

“Kalau lihat data, kita bisa pahami bahwa sejak awal pandemi kontributor global dalam kasus Covid-19 adalah kapasitas testing, tracing yang optimal dan memadai. Terutama berasal dari belahan benua Amerika yang testnya bisa dua juta sehari, Eropa serta Asia Pasifik dan timur,” terang dr. Dicky, kepada MNC Portal Indonesia, Kamis (25/2/2021).

Baca Juga : Potret Menggoda Gabriella Larasati, Bra Birunya Menyembul!

Baca Juga : 5 Potret Seksi Gabriella Larasati yang Diperiksa Polisi Terkait Video Syur

Lebih lanjut dr. Dicky menjelaskan bahwa kawasan-kawasan tersebut secara konstan stabil memberikan kontribusi yang signifikan besar. Baik dalam kasus Covid-19 harian maupun berasal dari testing, tracing itu. Hal ini berkat 3T mereka yang sangat memadai.

“Di sisi lain dari sejak awal pandemi, ada juga wilayah di dunia yang secara stabil konstan rendah, kontributornya dalam kasus Covid-19 harian. Tentunya ini berasal dari cakupan dari intervensi tracing, testing yang rendah, seperti di kawasan Mediterania dan South East Asia,” sambungnya.

Dokter Dicky mengatakan artinya penurunan kasus Covid-19 tidak bisa digeneralisasi, atau disamaratakan. Faktanya di Indonesia cakupan testingnya masih rendah, hal ini terlihat dari test positivity rate.

“Kita sejak awal pandemi Covid-19, sudah setahun ini Positivity ratenya belum pernah di bawah 10 persen,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini