Positivity Rate Indonesia Masih Tinggi, Ini Penjelasan Epidemiolog

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 25 Februari 2021 16:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 481 2368297 positivity-rate-indonesia-masih-tinggi-ini-penjelasan-epidemiolog-jPNfOvwMF2.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa kasus Covid-19 secara global turun secara signifikan sebanyak 16 persen. Penurunan kasus ini berkat adanya 3T (testing, tracing, dan treatment) serta upaya vaksinasi yang merata.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, dr. Dicky Budiman, menegaskan bahwa Indonesia jangan terlalu senang dulu dengan kabar penurunan kasus Covid-19 secara global oleh WHO. Sebab angka angka positivity rate Indonesia masih terbilang cukup tinggi.

Swab Test

Sekadar informasi cakupan testing dan tracing Indonesia masih dalam kategori rendah. Hal ini terlihat dari test positivity rate Tanah Air yang sejak awal pandemi Covid-19 hampir setahun, positivity ratenya belum pernah di bawah 10 persen.

“Ini artinya kasus infeksi yang tidak terdeteksi di masyarakat, besar. Jauh lebih tinggi dari yang terdeteksi. Selain testing kita rendah. Dari sisi skala penduduk dan juga dari sisi ekskalasi pandeminya,” terang dr. Dicky, kepada MNC Portal Indonesia, Kamis (25/2/2021).

Baca Juga : Potret Menggoda Gabriella Larasati, Bra Birunya Menyembul!

Baca Juga : 5 Potret Seksi Gabriella Larasati yang Diperiksa Polisi Terkait Video Syur

Menurut dr. Dicky, apabila Indonesia memiliki kecukupan dari sisi ekskalasi pandeminya, maka positivity ratenya akan lima persen ke bawah. Selain itu kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia tidak terkendali.

“Jadi apa yang terjadi fenomena tren pada global tidak serta merta mengartikan terjadi juga di Indonesia. Karena tes positivity ratenya tinggi sebagai indikator awal pandemi, menunjukkan sinyal merah ditambah diperkuat dengan adanya angka kematian yang tetap tinggi,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa kasus harian Covid-19 tidak bisa serta merta di jadikan ukuran. Sebab ukuran valid yang harus dilihat di awal adalah tes positivity rate. Sementara indikator telatnya adalah angka kematian.

“Kalau angka kematiannya masih lebih dari satu digit dengan tren meningkat, kita masih kecolongan. Artinya masih gagal dalam mendeteksi penyakit sejak dini,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini