Studi: Tidur Nyenyak Bisa Turunkan Faktor Risiko Gagal Jantung

Diana Rafikasari, Jurnalis · Jum'at 26 Februari 2021 05:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 481 2368503 studi-tidur-nyenyak-bisa-turunkan-faktor-risiko-gagal-jantung-yhTkDaIX3Z.jpg Ilustrasi tidur nyenyak. (Foto: Senivpetro/Freepik)

GAGAL jantung adalah salah satu penyakit yang dialami banyak orang. Gejalanya mencakup sesak napas, kelelahan, kaki bengkak, dan denyut jantung yang cepat. Gagal jantung merupakan keadaan ketika jantung tidak dapat memompa (sistolik) atau mengisi (diastolik) secara memadai.

Seperti dilaporkan laman WebMD, langkah pencegahan gagal jantung bisa berupa mengonsumsi lebih sedikit garam, membatasi asupan cairan, dan mengonsumsi obat resep. Dalam beberapa kasus, defibrilator atau alat pacu jantung ditanam.

Baca juga: Kenali Tipe Nokturia yang Sebabkan Seseorang Sering Pipis Tiap Malam 

Sementara dalam studi terbaru, tidur nyenyak bisa membantu mencegah gagal jantung. Para ilmuwan menemukan lebih dari 400.000 orang dewasa yang memiliki pola tidur paling sehat, 42 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami gagal jantung selama 10 tahun, dibandingkan orang dengan kebiasaan kurang sehat.

Orang-orang yang tidur sehat melaporkan 5 hal, yakni tidur 7 sampai 8 jam setiap malam, tidak mendengkur, jarang mengalami kesulitan untuk tertidur, tidak ada pusing di siang hari, serta menjadi orang yang bangun pagi.

Ilustrasi gagal jantung. (Foto: Jcomp/Freepik)

Namun ilmuwan senior Dr Lu Qi, profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Tropis Universitas Tulane, New Orleans, Amerika Serikat, mengatakan temuan tersebut tidak membuktikan sebab dan akibat. Penelitian ini menemukan bahwa orang dengan insomnia memiliki risiko penyakit jantung yang lebih tinggi.

Hal yang sama berlaku untuk orang dengan sleep apnea atau gangguan kronis saat bernapas berhenti berulang kali sepanjang malam. Faktanya, banyak orang yang tidak sehat dalam studi baru ini mungkin menderita sleep apnea.

Baca juga: Henti Jantung Sebabkan Penderitanya Hilang Kesadaran secara Mendadak 

Dokter Nieca Goldberg, ahli jantung di NYU Langone Health, New York, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa mendengkur kronis serta kantuk di siang hari adalah ciri khas dari sleep apnea. Jika orang menjadi kurang tidur karena masalah pernapasan, mereka tidak mungkin menjadi orang yang bisa bangun pagi.

Bukan berarti kurang tidur secara langsung menyebabkan gagal jantung. Menurut dr Goldberg, sebaliknya, hal itu dapat memberi makan faktor risiko gagal jantung melalui efek pada hormon stres, tekanan darah, dan detak jantung.

"Intinya adalah tidur menjadi perilaku lain yang harus diperhatikan oleh penyedia dan pasien," jelas dr Goldberg.

Dalam penelitian tersebut, Tim Qi menggunakan data pada lebih dari 400.000 orang dewasa Inggris yang mengambil bagian dalam penelitian kesehatan jangka panjang.

Pada awalnya ketika mereka berusia antara 37 dan 73 tahun, para peserta menjawab pertanyaan tentang rutinitas tidur.

Baca juga: Diego Maradona Meninggal Dunia, Ketahui Penyebab dan Pencegahan Serangan Jantung 

Para peneliti memberi setiap orang skor tidur sehat dari 0 sampai 5, berdasarkan jumlah kebiasaan sehat yang mereka laporkan. Lebih dari satu dekade, 5.221 peserta studi didiagnosis dengan gagal jantung atau kondisi kronis di mana otot jantung tidak dapat lagi memompa cukup efisien untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Secara keseluruhan, Tim Qi menemukan orang yang melaporkan 5 kebiasaan tidur yang sehat, 42 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami gagal jantung daripada orang yang melaporkan tidak satu pun atau hanya satu.

Baca juga: Awas, Hipertensi Bisa Sebabkan Gagal Jantung 

Tentu saja orang yang tidur dengan nyenyak umumnya juga sadar akan kesehatan. Jadi, Tim Qi memperhitungkan kebiasaan olahraga, diet, merokok dan minum, serta kondisi medis seperti diabetes serta tekanan darah tinggi. Mereka juga memperhitungkan tingkat pendidikan masyarakat dan pendapatan rumah tangga.

Tidur yang sehat tetap dikaitkan dengan risiko gagal jantung yang lebih rendah. Penemuan ini dipublikasikan secara daring pada 16 November di Circulation Journal. "Tidur 7 sampai 8 jam lebih baik dari 5 atau 6 jam," tutup Qi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini