WHO Tak Setuju 'Paspor Vaksin' Covid-19 untuk Perjalanan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 26 Februari 2021 10:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 26 481 2368662 who-tak-setuju-paspor-vaksin-covid-19-untuk-perjalanan-D272KD68Ol.jpg Ilustrasi paspor perjalanan Covid-19 (Foto : DW)

Beberapa negara diketahui akan memberlakukan 'paspor vaksin' sebagai salah satu syarat perjalanan. Namun, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menolak ide tersebut dengan alasan tak ada yang menjamin para pelancong kebal Covid-19.

"Surat keterangan sudah divaksin dijadikan syarat perjalanan bukan hal penting saat ini karena yang terpenting sekarang adalah vaksinasi berjalan dengan baik demi mengurangi penularan antarmanusia," tegas WHO dalam laporan New York Post.

Di laporan tersebut juga diterangkan bahwa WHO dengan tegas merekomendasikan bahwa orang yang sudah divaksinasi Covid-19 tak boleh melanggar protokol kesehatan, termasuk melakukan perjalanan jauh.

paspor

WHO khawatir, dengan adanya perjalanan lintas negara akan memengaruhi kelancaran program vaksinasi di setiap negara. Terlebih, ketika pelancong itu datang dan berebut dosis vaksin dengan warga lokal, ini akan memperpanjang periode pandemi karena kelompok risiko bisa saja tak kebagian jatah vaksinasi.

"Individu yang tak memiliki akses ke vaksinasi Covid-19 akan merasa tidak adil karena adanya pergerakan manusia yang sudah divaksin," tulis WHO.

Baca Juga : Emma Watson Diisukan Pensiun, Kenang Lagi Potret Cantiknya

Baca Juga : Pamela Safitri Seksi Pakai Coat Pamer Belahan Dada, Bikin Gak Mau Kedip!

Sebelumnya, negara-negara seperti Amerika, Inggris, dan negara Eropa mengusulkan konsep 'paspor vaksin' tersebut guna memudahkan pelancong untuk melakukan perjalanan. Tidak hanya itu, surat keterangan vaksinasi dipergunakan juga untuk akses ke bar, restoran, atau tempat umum lainnya.

Pakar kesehatan masyarakat setuju dengan larangan WHO tersebut. "Saya melihat bahwa surat keterangan vaksinasi ini memang punya fungsi jangka panjang, tapi kekhawtairan saya cukup besar pada pemahaman masyarakat yang keliru mengenai vaksinasi yang dianggap memberi kekebalan," kata Dr Deepti Gurdasani, ahli epidemiologi klinis di Queen Mary University of London.

"Kami hanya tahu sedikit tentang keefektivan vaksin dalam mencegah infeksi atau bahkan penyakit tanpa gejala terhadap beberapa varian yang beredar di berbagai negara," tambahnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini