Millen Cyrus Kembali Terjerat Narkoba, Kenapa Tak Kapok?

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Minggu 28 Februari 2021 11:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 28 481 2369660 millen-cyrus-kembali-terjerat-narkoba-kenapa-tak-kapok-DY3SfeGXBP.jpg Millen Cyrus (Foto : Instagram/@millencyrus)

Selebgram Millen Cyrus kembali ditangkap polisi terkait narkoba. Keponakan Ashanty tersebut ditangkap di sebuah kafe kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Minggu (28/2/2021) dini hari.

“Dari lokasi, kami memeriksa seorang selebgram berinisial MC dan temannya. Dari hasil tes urine dan usap antigen, mereka positif benzo,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Mukti Juharsa.

Sebelumnya, Millen Cyrus juga pernah ditangkap polisi karena narkoba pada November 2020. Kala itu, polisi menyita dua klip narkoba yang diduga sabu beserta alat isapnya.

Millen Cyrus

Millen sempat menjalani rehabilitasi narkoba di Lido Jawa Barat dan menyelesaikannya pada 10 Januari 2021. Lantas, kenapa Millen Cyrus seolah tidak kapok mengonsumsi narkoba?

Baca Juga : Millen Cyrus Kembali Terjerat Narkoba Positif Benzo, Apa Itu?

Baca Juga : 5 Potret Millen Cyrus, Keponakan Ashanty yang Kembali Terjerat Narkoba

Diterangkan Konselor Jenni Jacobsen, kecanduan atau adiksi narkoba sebetulnya secara klinis dikenal dengan gangguan penggunaan zat. "Ini adalah penyakit kronis," katanya di laman The Recovery Village.

Artinya, kecanduan zat itu serupa dengan diabetes atau hipertensi yang mana penyakit tersebut tidak ada obatnya, namun ada terapi pengobatan untuk mengontrolnya. Bedanya, hipertensi dapat dipantau dengan tes tekanan darah, tapi kecanduan zat itu memengaruhi otak yang berarti sulit untuk mengukurnya.

"Sering kali memantau pengobatan kecanduan itu dilihat dari bagaimana perasaan pasien dan apa yang mereka pikirkan usai tak menyentuh zat terlarang," papar Jacobsen.

"Tidak ada kriteria yang diterima secara universal untuk keefektifan pengobatan, begitu banyak pusat rehabilitasi yang menentukan kesuksesan itu sendiri. Misalnya, seseorang mungkin berhenti menggunakan zat, tapi sifat merusaknya masih ada."

Di Amerika, seseorang dinyatakan 'sembuh' dari adiksi zat terlarang diatur dalam ketetapan Office of Nationl Drug Control Policy. Apa saja?

1. Terjadinya pengurangan jumlah dan frekuensi penggunaan zat, bahkan berhenti.

2. Pasien meningkatkan pendidikannya.

3. Kesehatan fisik membaik, ditunjukkan dengan lebih sedikit kunjungan medis.

4. Meningkatnya kesehatan mental ditandai dengan suasana hati yang membaik.

5. Hubungan yang lebih baik dengan teman, keluarga, orang yang dicintai, ataupun masyarakat secara umum.

6. Berkurangnya tindakan kriminal.

7. Laporan kecelakaan berkurang sebagai tanda peningkatan keamanan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini