Cara Tepat Memilih Tensimeter untuk Digunakan di Rumah

Antara, Jurnalis · Senin 01 Maret 2021 11:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 481 2370052 cara-tepat-memilih-tensimeter-untuk-digunakan-di-rumah-M2ABCPFUTf.jpg Alat pengukur tekanan darah atau tensimeter. (Foto: Prostooleh/Freepik)

SELALU mengetahui tekanan darah atau tensi menggunakan tensimeter tubuh sangat penting bagi semua orang. Ini untuk mencegah timbulnya risiko berbagai penyakit, di antaranya serangan jantung dan stroke.

Mengukur tekanan darah kini bisa dilakukan sendiri di rumah. Sudah tersedia sejumlah alat pengukur tekanan darah atau tensimeter atau lebih tepatnya disebut sfigmomanometer. Ini tentu sangat bermanfaat di tengah masa pandemi covid-19.

Baca juga: Mencegah Hipertensi Sejak Muda, Apa yang Mesti Dilakukan? 

Terkait hal tersebut, praktisi kesehatan menganjurkan masyarakat memilih alat yang dipakai di bagian lengan, bukan jari atau pergelangan tangan.

"Carilah alat yang mudah dioperasikan yakni digital," jelas dr Eka Harmeiwaty, sekretaris jenderal Indonesian Society of Hypertension (InaSH) yang juga spesialis saraf Rumah Sakir Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, dalam webinar beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Antara.

Alat pengukur tekanan darah atau tensimeter. (Foto: Prostooleh/Freepik)

Pilihlah produk dari merek yang sudah mendapat validasi internasional, misalnya sudah banyak hadir di Indonesia. Masyarakat idealnya memilih alat yang dijual agen resmi di dalam negeri.

"Idealnya bisa dikalibrasi, cari yang agennya di Indonesia agar bisa dikalibrasi," jelasnya.

Baca juga: 5 Cara Sederhana Kontrol Tekanan Darah Tanpa Obat-obatan 

Ia mengatakan, deteksi dini pada kelompok usia dewasa yang berumur 18 tahun ke atas penting untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi.

Di lapangan kadang kala terdapat kendala dalam menegakkan diagnosis pasti hipertensi karena dari hasil pengukuran ada kategori lain yaitu white coat hypertension (hipertensi jas putih) dan masked hypertension (hipertensi terselubung).

Hipertensi jas putih sering ditemukan pada pasien hipertensi derajat 1 (tekanan darah siatolik 140–159 dan atau tekanan sistolik 90–99 mmHg) pada pemeriksaan di klinik tapi pada pengukuran di rumah tekanan darah normal.

"Pada individu ini tidak perlu diberikan pengobatan namun perlu pemantauan jangka panjang karena berisiko terjadi hipertensi di kemudian hari. Prevalensi diperkirakan 2,2–50 persen dan sangat dipengaruhi oleh cara pengukuran di klinik," lanjutnya.

Baca juga: Bagaimana Cara Mengecek Tekanan Darah di Rumah? 

Ia menambahkan, sebaliknya hipertensi terselubung menunjukkan tekanan darah normal saat diperiksa di klinik, tapi pengukuran di luar klinik hasilnya menunjukkan tekanan darah yang meningkat. Dari berbagai studi prevalensi adalah 9–48 persen. Hipertensi terselubung ini mempunyai risiko tinggi kerusakan organ.

"Untuk mengetahui hipertensi jas putih dan hipertensi terselubung dibutuhkan pemeriksaan tekanan darah di rumah yang selanjutnya disingkat dengan PTDR (pengukur tekanan darah di rumah)," ungkap dia.

Baca juga: Makanan Ini Bakal Ganggu Kondisi Tulangmu Lho 

PTDR bermanfaat di tengah pandemi karena pasien lebih memilih berada di rumah dan enggan ke rumah sakit. Dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah sendiri, pasien dapat memanfaatkan layanan kesehatan daring dalam berkonsultasi kepada dokter yang merawat mereka.

"PTDR ini disarankan pada pasien hipertensi terutama bagi pasien hipertensi dengan gangguan ginjal, diabetes, dan wanita hamil dan juga pasien dengan kepatuhan pengobatan yang buruk," jelasnya.

Dokter Eka menjelaskan panduan PTDR yakni lakukan dua kali pada pagi hari dan malam hari. Lakukan rerata hasil dengan mengeksklusikan pengukuran hari pertama.

Baca juga: Tak Cuma Tekanan Darah, Ternyata Klinyengan Bisa karena Dehidrasi 

Pada pagi hari, pengukuran dilakukan satu jam setelah berjalan, buang air kecil, sebelum sarapan dan minum obat. Ketika pengukuran dilakukan pada malam hari, lakukan jelang tidur atau dua jam setelah makan. Istirahatlah 1–5 menit, lalu duduk dengan posisi bersandar. Duduklah di dekat meja dengan lengan dan manset setinggi detak jantung.

Ketika mengukur, jangan mengobrol atau merasa gelisah. Jangan pula menyilangkan kaki atau berolahraga 30 menit sebelum pengukuran. Individu juga tidak boleh minum kopi atau merokok satu jam sebelumnya, minum obat sebelum pengukuran juga dilarang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini