Waspada Hemofilia, Gangguan Pembekuan Darah yang Harus Segera Ditangani

Antara, Jurnalis · Senin 01 Maret 2021 21:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 481 2370391 waspada-hemofilia-gangguan-pembekuan-darah-yang-harus-segera-ditangani-F83bKYcA4x.jpg Ilustrasi pemeriksaan pasien hemofilia. (Foto: Freepik)

SALAH satu penyakit yang harus serius ditangani adalah hemofilia. Ini merupakan penyakit kelainan pendarahan, yakni saat darah tidak dapat membeku seperti seharusnya hingga bisa menyebabkan penderitanya mengalami perdarahan yang lama atau bahkan tidak terkendali akibat benturan ringan ataupun pendarahan spontan.

Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) Profesor dr Djajadiman Gatot mengatakan kondisi yang sebagian besar diturunkan secara genetis melalui anak laki-laki ini bisa menyebabkan cacat fisik permanen termasuk kerusakan sendi hingga kematian pada penderitanya.

Baca juga: Mengenal Hemofilia, Penyakit Langka yang Menyerang Puluhan Ribu Anak Laki-Laki di Indonesia 

"Hemofilia merupakan suatu kelainan perdarahan yang diturunkan secara genetik dan penyandanganya bisa mengalami perdarahan tanpa atau dengan trauma. Biasanya apabila dengan trauma menandakan penyandangnya mengalami penyakit cukup berat dan jika tidak ditangani bisa menyebabkan cacat fisik permanen atau bahkan berakibat kematian," ungkap dia di sela kongres secara virtual, seperti dikutip dari Antara.

Sementara dilansir laman Healthline, orang dengan hemofilia dapat mengalami pendarahan spontan atau internal dan seringkali mengalami nyeri, sendi bengkak, karena pendarahan pada sendi. Pada anak-anak dengan hemofilia, gejala-gejala ini dapat terjadi sekira usia 2 tahun.

Ilustrasi pasien. (Foto: Shutterstock)

Lebih lanjut perdarahan spontan dapat menyebabkan sejumlah masalah, di antaranya darah dalam urine dan tinja, gusi berdarah, sering mimisan dan persendian yang kencang. Namun apabila hemofilia ditangani dengan baik, maka kualitas hidup penyandangnya dapat seperti normal.

Hanya saja, menurut Prof Djajadiman yang juga spesialisasi anak di Departemen Medik Ilmu Kesehatan Anak RSCM ini, masih ada sejumlah hambatan dalam pengobatan hemofilia di Indonesia, salah satunya biaya yang relatif sangat mahal.

Baca juga: Kisah Hafizh Kalamullah Hidup dengan Hemofilia, Seolah Jadi "Barang Pecah Belah" 

Meski begitu, pengobatan saat ini didukung melalui jaminan kesehatan nasional sehingga penyandang hemofilia di Indonesia dapat memperoleh pengobatan faktor pembekuan yang dibutuhkan meskipun jumlahnya masih terbatas.

Di sisi lain, masih banyak penyandang hemofilia yang diobati di bawah standar pengobatan sehingga masih banyak pasien mengalami kerusakan sendi ataupun perdarahan berat yang berisiko kematian.

"Salah satu penyulit penanganan hemofilia adalah terbentuknya inhibitor yang menetralisir faktor pembekuan sehingga membutuhkan pengobatan lain yang harganya menjadi jauh lebih mahal," ungkapnya.

Di samping itu, pemberian profilaksis atau prosedur kesehatan untuk mencegah penyakit seperti yang dilakukan di negara lain belum dapat dilaksanakan.

Diagnosis hemofilia melalui Parameter Prothrombin Time (PT) dan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) untuk mengevaluasi kelainan perdarahan saat ini baru bisa dilakukan di RSUD, lalu pemeriksaan faktor pembekuan di rumah sakit besar harganya cukup mahal, terutama apabila ada tambahan misalnya MRI.

Baca juga: Kisah Inspiratif, Perjuangan Hidup Penderita Hemofilia 

Secara statistik diperkirakan terdapat 20.000 hingga 25.000 penyandang hemofilia di Indonesia, namun baru 2.300 penyandang atau 10 persen pasien yang terdiagnosis dan mendapat pengobatan.

Prof Djajadiman berharap penyelenggaraan Kongres Nasional Hemofilia dapat menjadi awal sarana interaksi yang berkesinambungan bagi semua pemangku kebijakan dan pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan hemofilia di Indonesia untuk bersama-sama mencari solusi yang terbaik.

"Kami HMHI sangat mengharapkan dukungan pemerintah dalam upaya peningkatan penanganan hemofilia secara komprehensif di semua jenjang pelayanan kesehatan dan dukungan kebijakan pembiayaan untuk penanganan hemofilia yang optimal serta pelaksanaan registrasi hemofilia," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini