Berbagai Gangguan Kesehatan Penyintas Covid-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 02 Maret 2021 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 481 2370432 berbagai-gangguan-kesehatan-penyintas-covid-19-BaCIwUAPp3.jpg Pasien Covid-19 (Foto: Reuters)

Penyakit Covid-19 menjadi salah satu penyakit mengerikan yang menyerang Tanah Air. Sudah setahun lamanya penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia ini melanda Indonesia.

Ternyata penyakit ini tidak hanya menyebabkan kematian, namun membawa efek jangka panjang bagi para penyintas Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh.

 penyintas Covid-19

Ya, fenomena ini disebut dengan Long Covid-19. Baru-baru ini, pasien nomor satu dan dua Covid-19 di Indonesia mengeluh merasakan napasnya terengah-engah dan kondisi badan lemas. Padahal mereka telah dinyatakan bebas dari Covid-19 setahun lamanya.

Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i mengatakan, fenomena Long Covid-19 yang dialami para penyintas pasca-sembuh memang ada. Ia pun mencoba menjelaskan tentang fenomena tersebut berdasarkan paper dari jurnal kesehatan Idscociety mengenai infeksi Covid-19 yang terjadi di Amerika Serikat (AS).

“Dari laporan terakhir, Januari 2021, orang-orang yang sudah pulang dari rumah sakit diikuti selama enam bulan ke depan, kurang lebih 1.700 orang pasiennya. Ternyata dalam 6 bulan ada beberapa gejala yang ditimbulkan. Sebanyak 76 persen diantaranya minimal merasakan satu gejala,” terang dr. Fajri, saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Senin (1/3/2021)

Dokter Fajri menjelaskan, gejala yang paling banyak dialami adalah lemas sejumlah 63%, susah tidur sebanyak 26%, rambut rontok 22%, lalu sulit mencium dan merasakan sebanyak 11% dan 9%, serta masalah ketika bergerak sebanyak 7%.

Temuan pentingnya lainnya adalah, dalam kondisi pasien yang lebih berat (kondisi pasien dibagi 3 yakni tidak memakai oksigen, memakai oksigen, dan memakai oksigen yang berat memakai ventilator) maka risikonya juga semakin besar.

“Di sini dikatakan bahwa ketika pasien yang sakitnya semakin berat, risiko untuk terjadinya abnormalitas pada pulmo atau paru, kelelahan, otot yang lemas, anxiety dan depresi lebih tinggi. Dan ditemukan juga pada pasien seperti ini, kadar antibodinya dan zero positifnya juga lebih rendah,” tuntasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini