Dokter Benarkan Long Covid-19 Bisa Bertahan hingga Setahun

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 02 Maret 2021 03:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 481 2370502 dokter-benarkan-long-covid-19-bisa-bertahan-hingga-setahun-dGKiB2c8f2.jpg Ilustrasi long covid-19. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI covid-19 telah satu tahun lamanya melanda Indonesia. Banyak korban meninggal dunia akibat penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini. Selain menyebabkan kematian, rupanya covid-19 juga menimbulkan efek jangka panjang atau long covid-19, bahkan hingga satu tahun lamanya.

Hal ini dibuktikan dari pengakuan pasien nomor 1 dan 2 covid-19 di Indonesia yakni Sita Tyasutami dan ibunya Maria Darmaningsih yang terinfeksi virus corona pada 27 Februari 2020. Dalam wawancara dengan MNC Portal, mereka mengeluh merasakan napasnya terengah-engah dan kondisi badan lemas.

Baca juga: Setahun Lalu Covid-19 Terdeteksi di Indonesia, Bagaimana Kabar Pasien Pertama?

"Selama sampai bulan Desember itu aku enggak ada kenapa-kenapa, normal saja kesehatanku. Nah, Januari 2021 ini mulai lemas dan sakit-sakitan lagi sampai berminggu-minggu," kata Sita.

Setelah diperiksakan ke tempat alternatif akupunktur, ahli akupunktur menyebut darah pasien covid-19 seperti Sinta dan ibunya mengalami pengentalan.

"Memang darah aku mengental banyak dari orang-orang yang kena covid dan jadi penggumpalan darah dan aku memang ada itu," kata Sita.

Dokter relawan covid-19, Muhamad Fajri Adda'i, mengatakan gejala seperti dialami pasien nomor 1 dan 2 memang benar adanya. Sebab dalam beberapa literatur yang dibacanya, ditemukan beberapa gejala yang kerap dialami pasien usai sembuh dari gejala akutnya.

"Jadi memang ada orang yang mengalami gejala pasca dia sembuh. Kemudian dalam jangka panjang ada yang merasakan gejala tersebut," terang dr Fajri saat dihubungi oleh MNC Portal, Senin 1 Maret 2021.

Baca juga: Vaksinasi Gotong Royong Covid-19, Harus Bayar atau Tetap Gratis? 

Meski demikian, dia tidak memahami secara pasti tentang gejala yang dialami pasien nomor 1 dan 2. Ia pun tidak bisa berkomentar, apakah betul kedua penyintas covid-19 ini benar-benar mengalami keluahan pada kesehatannya.

"Saya tidak tahu. Jadi, saya tidak bisa berkomentar apakah betul yang mereka alami. Tapi yang jelas bahwa data mengenai penelitian ini ada. Ada beberapa paper yang dirangkum dalam paper Idsociety mengenai infeksi di Amerika," tuntasnya.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini