Positif Covid-19, Penderita Hipertensi Diimbau Lanjutkan Konsumsi Obat

Antara, Jurnalis · Selasa 02 Maret 2021 17:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 02 481 2370999 positif-covid-19-penderita-hipertensi-diimbau-lanjutkan-konsumsi-obat-LrIvHsiumJ.jpg Ilustrasi penderita hipertensi positif covid-19. (Foto: Shutterstock)

PENDERITA hipertensi yang terinfeksi covid-19 diimbau tidak perlu khawatir untuk terus melanjutkan mengonsumsi obat-obatan yang bertujuan mengelola penyakit darah tinggi. Ini juga sejalan dengan penjelasan dari asosiasi profesi terkait hipertensi di dunia.

"Penggunaan obat-obatan anti-hipertensi pada masa covid-19 oleh asosiasi profesi terkait hipertensi di dunia menekankan bahwa pada pasien-pasien hipertensi yang terkena covid-19 maka obat anti-hipertensi yang digunakan sebelumnya harus dilanjutkan," jelas Tunggul D Situmorang, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus President of Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dalam webinar 'Waspadai Hipertensi sebagai Komorbid Tertinggi Covid-19' beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Antara.

Baca juga: Dokter: Komorbid Tidak Sebabkan Reaksi Alergi Usai Vaksinasi Covid-19 

Ia melanjutkan, sampai saat ini data yang ditemukan menghasilkan kesimpulan bahwa pemberian obat anti-hipertensi kepada pasien covid-19 memang harus dilanjutkan, bukan dihentikan. Penyakit hipertensi memperburuk perjalanan covid-19 sehingga pasien perlu waspada dalam menghadapinya.

Info grafis vaksin covid-19. (Foto: Okezone)

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat sebanyak 63 juta orang atau sebesar 34,1 persen penduduk Indonesia menderita hipertensi. Dari populasi hipertensi tersebut, hanya sebesar 8,8 persen terdiagnosis hipertensi dan hanya 54,4 persen dari yang terdiagnosis hipertensi rutin minum obat.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 untuk Lansia Dilakukan Sistem Drive Thru 

"Data terkini menyebutkan bahwa hipertensi merupakan komorbid tertingi covid-19 di dunia, termasuk di Indonesia, dengan perbandingan di Amerika Serikat sebanyak 56,6 persen, China 58,3 persen, Italia 49 persen, serta Indonesia 50,5 persen," paparnya.

Hipertensi adalah penyebab kematian nomor 3 di Indonesia, padahal penyakit yang prevalensi meningkat seiring pertambahan usia ini bisa dicegah asal masyarakat waspada sejak dini. Apalagi, banyak pengidap hipertensi yang tidak mengalami gejala apa pun, alasan mengapa darah tinggi dijuluki "pembunuh senyap".

Sebaiknya masyarakat mulai mengukur tekanan darah setelah beranjak dewasa, yakni usia 18 tahun, untuk mendeteksi dini apakah memiliki hipertensi.

Di tengah keterbatasan ruang gerak saat pandemi, dr Tunggul mengajak masyarakat memanfaatkan teknologi layanan kesehatan secara daring dalam berkonsultasi secara rutin dengan dokter. Selain itu, penting rutin mengukur sendiri tekanan darah di rumah secara mandiri.

Baca juga: Eijkman: Diharapkan Izin Vaksin Merah Putih Didapat pada Pertengahan 2022 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini