Penjelasan Dokter Proses Mutasi Virus Jadi Covid-19 Strain B117

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 03 Maret 2021 12:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 03 481 2371465 penjelasan-dokter-proses-mutasi-virus-jadi-covid-19-strain-b117-Ml7BaoAszv.jpg Ilustrasi (Foto : Healthline)

Penemua dua kasus pertama mutasi strain baru Covid-19 B117 yang berasal dari Inggris tengah menjadi perbincangan hangat saat ini. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono dalam live streaming acara ‘Peringatan 1 Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia’ di channel YouTube Kemenristek, Selasa (2/3/2021).

Sebagaimana diketahui strain B117 ini adalah mutasi genetik yang terjadi pada virus Covid-19 terdahulu. Strain baru Covid-19 ini ditakuti oleh banyak negara karena kemampuan mereka yang lebih cepat dalam hal penularan. Tentunya banyak masyarakat yang penasaran, tentang bagaimana virus dapat melakukan mutasi.

covid-19

Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i menjelaskan berdasarkan penelitian ilmiah yang dijelaskan oleh New York Times, terjadi perubahan pada basa genetik yang mengkode spike protein. Pada laporan tersebut terjadi perubahan struktural yang mungkin bisa menyebabkan lebih cepat untuk menginfeksi.

“Hal ini terlihat dari bentuk perubahan tanduk (spike) protein pada virus. Tapi apakah perubahan tanduk tersebut menyebabkan imunitas tidak bisa mengenali, masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut meski ada indikasi ke arah sana. Intinya virus ini melakukan mutasi sebagai bentuk pertahanan diri,” ujar dr. Fajri, ketika dihubungi MNC Portal Indonesia, Selasa 2 Maret 2021.

Baca Juga : Ajak Ngebor, Maria Vania Bikin Netizen Kegerahan Jadi Tukang Bangunan Seksi

Baca Juga : Heboh Strain Baru Covid-19 B117UK di Indonesia, Ini Penjelasan Dokter

Merangkum dari jurnal kesehatan lainnya, dr. Fajri menjelaskan bahwa telah terjadi 23 mutasi pada virus Covid-19. Beberapa diantaranya adalah mutasi yang mengkode protein spike, yang berguna untuk masuk ke dalam sel seseorang manusia atau makhluk hidup. Kemungkinan mutasi pada virus ini bisa meningkatkan kematian. Meski demikian hal ini belum bisa dipastikan dan masih membutuhkan data lebih lanjut.

“Berdasarkan artikel kesehatan yang dirangkum Wall Street Journal belum lama ini, untuk tingkat dying (keparahan beragam). Ada studi-studi yang menyatakan hal itu belum terbukti. Sebab ada studi yang menyebut tingkat keparahannya menjadi semakin berat lebih dari satu kali lipat, tapi ada juga yang kecil kemungkinan untuk menjadi berat. Jadi studinya terbagi dua dan masih belum jelas datanya,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini