Diet Tya Ariestya Abaikan Sayur, Apa Kata Ahli Gizi?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 03 Maret 2021 12:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 03 481 2371470 diet-tya-ariestya-abaikan-sayur-apa-kata-ahli-gizi-2Bfyg5WXaq.jpg Diet Tya Ariestya (Foto: Inst Tya Ariestya)

Diet ala Tya Ariestya jadi perbincangan hangat di media sosial. Artis itu berhasil menurunkan berat badan 22 kilogram dalam 4 bulan tanpa sayur.

Di Instagram, Tya Ariestya menjelaskan ada 3 poin utama dalam menu menurunkan berat badannya. Adalah jalan kaki 45 menit setiap hari, disiplin dengan waktu makan, dan mengatur pola makan yaitu tidak menggunakan minyak, tepung, gula, dan santan di menu makanan.

 Tya makin langsing

Dari menu diet Tya Ariestya, yang paling mengejutkan adalah ibu dua orang anak itu tidak mengonsumsi sayur karena dianggap mampu menaikkan berat badan. Pernyataan tersebut diterangkan dokter dietnya yaitu dr Yusri Dinuth.

"Kenapa aku enggak makan sayur selama program penurunan berat badan? Bukan tidak sama sekali, bahkan aku sempat dikasih tapi it's not work di badan aku," kata Tya di video Youtube.

Tidak diberi sayur di menu diet membuat Tya bertanya ke dokter dietnya. Jawaban ini yang dia terima, "Menurut dokterku, kalau enggak suka (sayur) malah oke, kamu enggak usah makan sayur," tambahnya. Di video itu pun Tya menerangkan bahwa mengonsumsi sayur sedikit menghambat penurunan berat badannya.

Pernyataan tersebut langsung viral di Twitter. Akun @gizipedia_id membagikan pernyataan bertentangan dengan apa yang dijalani Tya Ariestya dalam upaya menurunkan berat badan.

"Enggak sabar mau review jujur soal buku ini dari kacamata ahli gizi," tulisnya di unggahan foto yang memperlihatkan buku 'The Journey of #FitTyaAriestya'. Unggahan tersebut disukai 2,3 ribu netizen dan dibagikan ulang sebanyak 1,3 ribu kali.

Fokus pembahasannya ada di pemilihan menu diet yaitu tidak memasukkan sayur. Tidak hanya itu, konsumsi garam bebas yang dilakukan pada Tya pun jadi hal yang didiskusikan.

Terlepas dari itu, MNC Portal coba menanyakan hal ini ke Ahli Gizi Primaya Hospital Tangerang, dr Yohan, SpGK dan menurutnya, sayur malah baik untuk kesehatan tubuh, termasuk dalam menu diet.

Sebelum itu, dr Yohan coba menjelaskan bahwa kalau untuk menurunkan berat badan, memang kuncinya adalah defisit kalori. Artinya energi yang masuk ke tubuh harus lebih sedikit daripada energi yang digunakan, sehingga tubuh akan mengambil energi dari lemak untuk menutup kekurangannya.

"Caranya bisa dengan mengurangi porsi makanan dan minuman atau menambah aktivitas fisik, dan olahraga," terang dr Yohan melalui pesan singkat, Rabu (3/3/2021).

Mengurangi jumlah makan ini harus bertahap, karena tubuh perlu adaptasi. Selain itu, Anda perlu belajar porsi makan dan juga untuk menghindari binge eating. Artinya, kalau Anda mendadak diet ketat, berat badan memang bisa turun cepat, tapi pasti akan naik lagi.

"Dan ketika naik lagi, maka akan lebih sulit menurunkannya kembali, ini dikenal dengan yoyo phenomenon," katanya.

Mengurangi jumlah kalori juga ada batasnya, tidak boleh terlalu rendah, batas amannya di kisaran 1000 kalori. Karena jantung juga butuh energi untuk berdenyut, otak untuk berpikir, paru untuk bernapas dan sebagainya.

Penting sekali tetap mengkonsumsi gizi seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral saat diet, supaya tidak mengganggu fungsi organ, persarafan, dan hormon. Termasuk sayur.

Menurut dr Yohan, sayur itu kaya akan vitamin dan mineral, serat, antioksidan, dan fitokimia yang sangat penting untuk kesehatan.

"Serat yang ada di sayur memang sulit dicerna tapi bukan berarti metabolisme menjadi lambat, justru membuat Anda kenyang lebih lama," tegasnya.

Selain itu serat juga bersifat prebiotik untuk menyehatkan bakteri baik di usus, yang pada akhirnya akan menunjang keberhasilan program penurunan berat badan.

"Perlu saya terangkan di sini, jika membahas program diet, setiap orang bisa sangat berbeda, tergantung usia, kesibukan harian, tingkat stress, penyakit yang ada, bahkan genetik. Suatu pola diet bisa saja berhasil untuk seseorang, tapi malah berbahaya untuk Anda," tambah dr Yohan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini