Hari Obesitas Sedunia, Ini Penyebab dan Langkah Penanganannya

Antara, Jurnalis · Kamis 04 Maret 2021 10:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 04 481 2372031 hari-obesitas-sedunia-ini-penyebab-dan-langkah-penanganannya-C2gzvlum4p.jpg Ilustrasi obesitas. (Foto: Shutterstock)

SETIAP tanggal 4 Maret diperingati sebagai Hari Obesitas Sedunia. Dilaporkan bahwa kasus obesitas atau kegemukan makin meningkat di dunia, termasuk juga Indonesia. Para praktisi kesehatan pun selalu memberi imbauan untuk menghindari kondisi ini. Salah satu caranya adalah mengetahui penyebab dan penangannya.

Terkait hal tersebut, Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof Dr dr Ketut Suastika Sp.PD-KEMD mengungkapkan obesitas harus dipahami sebagai penyakit kronis yang kompleks, progresif, dan bisa kambuh.

"Menganggap bahwa obesitas adalah akibat kesalahan individu karena terlalu banyak asupan dan kurang berolahraga adalah kekeliruan yang umum terjadi," jelas Profesor Suastika dalam keterangannya, seperti dikutip dari Antara, Kamis (4/3/2021).

"Pada kenyataannya, obesitas adalah berat badan berlebih yang diakibatkan oleh berbagai faktor genetik, psikologis, sosiokultural, ekonomi, dan lingkungan," lanjutnya.

Baca juga: Miris, Kemenkes Sebut Kasus Obesitas di Indonesia Mengkhawatirkan 

Ia mengatakan, begitu seseorang mengalami keadaan obesitas, keadaan ini akan menjadi masalah yang panjang, bahkan seumur hidup, dan kembalinya pertambahan berat badan umum terjadi.

Sementara Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia Profesor Dr dr Nurpudji Taslim Sp.GK (K) MPH juga memaparkan mengenai peningkatan konsumsi makanan olahan yang berperan besar dalam penambahan asupan tidak sehat yang masuk ke dalam tubuh.

"Makanan olahan seperti mi instan dan camilan yang digoreng biasanya memiliki harga yang terjangkau, mudah ditemukan, dan sangat dipromosikan, padahal makanan seperti itu tidak sehat karena berkalori tinggi dan bernutrisi rendah," paparnya.

"Sayangnya, lebih dari 60 persen orang dewasa mengonsumsi mi instan dan camilan yang digoreng setiap minggu. Anak-anak pada umumnya juga mengonsumsi makanan sehat dalam jumlah yang lebih sedikit dari yang mereka butuhkan, dan mereka mengonsumsi lebih banyak makanan tidak sehat, yang seharusnya mereka hindari," tambahnya.

Ilustrasi obesitas. (Foto: Shutterstock)

Penyebab Obesitas

Profesor Suastika mengatakan bahwa penyakit-penyakit kronis biasanya berhubungan dengan obesitas. Obesitas sendiri telah dikaitkan dengan hampir 200 penyakit, beberapa di antaranya dapat mengancam jiwa, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kanker.

Berdasarkan data pada 2016 di Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 5 juta orang penyandang diabetes dan 11 juta orang dengan hipertensi juga mengalami kondisi kelebihan berat badan atau obesitas.

Baca juga: Penyebab Obesitas, Tidak Hanya Kebanyakan Makan dan Kurang Olahraga 

Profesor Nurpudji menambahkan, obesitas adalah salah satu risiko terbesar untuk keparahan covid-19. "Kondisi obesitas ditambah paparan covid-19 akan membuat seseorang berisiko 113 persen lebih tinggi untuk dirawat di rumah sakit, 74 persen lebih tinggi untuk harus menjalani perawatan ICU, dan 48 persen lebih tinggi terhadap risiko kematian," jelas dia.

Tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, peningkatan kasus obesitas secara nasional pun berdampak pada ekonomi dan risiko finansial yang semakin mahal bagi negara.

Dengan lebih dari 800 juta orang di dunia yang mengalami obesitas, konsekuensi medis dari obesitas akan mencapai lebih dari 1 triliun dolar AS pada tahun 2025.

Terkait dampak ekonomi yang mengkhawatirkan akibat obesitas, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa obesitas mengurangi masa produktif sebanyak 6–10 tahun.

"Obesitas juga menyita 8–16 persen anggaran biaya kesehatan nasional. Pada 2016, dampak total (langsung dan tidak langsung) dari obesitas diperkirakan sebesar 2–4 miliar dolar Amerika Serikat," kata dr Cut Putri Arianie M.H.Kes, direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes.

Penanganan Obesitas

Terkait penanganan obesitas, Prof Suastika menjelaskan bahwa seperti penyakit kronis lainnya, tidak ada solusi yang mudah untuk menangani obesitas. Hal ini dikarenakan obesitas adalah penyakit multifaktor yang membutuhkan pendekatan dari berbagai segi, termasuk pengaturan nutrisi, aktivitas fisik, intervensi psikologis, dan juga obat-obatan atau tindakan operatif apabila dibutuhkan.

"Kita harus bergerak maju dari pendekatan awal yang sederhana seperti 'kurangi asupan dan lebih banyak bergerak'. Kita harus mengatasi penyebab utama obesitas," ungkap rektor Universitas Udayana Bali periode 2013–2017 ini.

Baca juga: Ini 7 Masalah Kesehatan Akibat Obesitas, Yuk Segera Dihindari 

Membahas lebih lanjut mengenai solusi komprehensif untuk menangani obesitas, Profesor Suastika mengingatkan bahwa diperlukan program-program dengan intervensi komunitas yang berskala besar dan melibatkan pemerintah, praktisi kesehatan, media, dan masyarakat.

"Fokus kita seharusnya adalah untuk menetapkan obesitas sebagai penyakit kronis yang serius dalam agenda kesehatan nasional dan meningkatkan edukasi gaya hidup sehat, termasuk di sekolah-sekolah," jelas dia.

Profesor Nurpudji menambahkan, mengubah pola hidup menjadi lebih sehat adalah kunci utama dari perawatan penderita obesitas.

"Modifikasi gaya hidup adalah dasar dari perawatan dan pencegahan penyakit kronis seperti obesitas. Seseorang dengan kondisi obesitas (IMT >25) harus segera mencari bantuan profesional untuk intervensi sesuai dengan kondisinya," katanya.

"Obesitas dapat dicegah dengan pola makan sehat yang seimbang, berolahraga minimal 150 menit per minggu, dan memonitor IMT secara rutin," tambah dia.

Baca juga: Kabar Baik, Ajak Anak Gowes Turunkan Risiko Obesitas saat Pandemi 

Pemerintah melalui Kemenkes juga telah mengembangkan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) di masyarakat untuk memberikan edukasi tentang kebiasaan hidup sehat yaitu "CERDIK".

"CERDIK" sendiri meliputi: Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik olah raga, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, serta Kelola stres.

Ada pula "Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)" yang gencar dipromosikan pemerintah demi masyarakat Indonesia yang lebih sehat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini