Obesitas Meningkat, Stunting Tinggi, Indonesia Hadapi Masalah Gizi Ganda

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 04 Maret 2021 16:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 04 481 2372339 obesitas-meningkat-stunting-tinggi-indonesia-hadapi-masalah-gizi-ganda-YmbQnupCdn.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Pemerintah masih berjuang dalam mengentaskan masalah gizi ganda di Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 kekurangan gizi makro seperti stunting masih tinggi yakni sebesar 30,8 persen dan wasting (kurus) pada anak balita sebesar 10,2 persen.

Tak hanya gizi makro, masalah gizi mikro seperti anemia (kekurangan darah) juga masih tinggi. Data menunjukkan bahwa sebanyak satu dari dua Ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Tak sampai di situ, Indonesia juga mengalami permasalahan gizi lebih.

Stunting

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Dhian Dipo, MA, menjelaskan kasus permasalahan gizi lebih, dikenal sebagai obesitas. Kondisi ini kerap terjadi di usia dewasa baik pada pria maupun wanita. Meski demikian wanita memiliki prevalensi yang lebih tinggi ketimbang pria.

“Data menunjukkan bahwa tingkat obesitas pada orang dewasa meningkat dari 14,8 persen menjadi 21,8 persen. Sementara prevalensi berat badan berlebih juga meningkat dari 11,5 persen di 2013 ke 13,6 persen di 2018,” terang dr. Dhian, dalam workshop ‘Cerdas Baca Label Kemasan, Hindari Risiko Obesitas’ Kamis (4/3/2021).

Baca Juga : Luna Maya Pamer Tas Rp1,2 Miliar, Netizen: Bengek Aku Lihat Harganya

Baca Juga : 5 Potret Amanda Manopo dengan Rambut Panjang Bikin Pangling, Manis Banget!

Selain itu kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Sebab terdapat perubahan gaya hidup serta kondisi di lingkungan sekitar. Beberapa diantaranya adalah pembatasan aktivitas di luar rumah yang dibarengi dengan peningkatan waktu berada di depan gadget.

“Kondisi ini menyebabkanpenurunan aktivitas fisik dan peningkatan konsumsi makanan, terutama makanan siap saji dan pangan olahan yang dipesan secara online. Kondisi ini dapat menjadi faktor risiko terjadinya obesitas, yang berdampak pada peningkatan penyakit tidak menular dan beban ekonomi negara,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini