Sudah Negatif, Apakah TKW Karawang Pembawa Corona B117 Tetap Mengkhawatirkan?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 04 Maret 2021 17:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 04 481 2372430 sudah-negatif-apakah-tkw-karawang-pembawa-corona-b117-tetap-mengkhawatirkan-x6iBtrNE5z.jpg Dokter Budiman (Foto: Satgas Covid-19)

Dua TKW Karawang, Jawa Barat, datang dari Arab Saudi membawa mutasi corona B117. Mereka diketahui sudah ada di wilayah masing-masing karena dinyatakan negatif usai pemeriksaan PCR pasca-karantina mandiri di salah satu hotel di Jakarta.

Ya, TKW inisial M (40) adalah warga Kecamatan Lemahabang, sedangkan TKW inisial A (45) berasal dari Kecamatan Pedas, Karawang, Jawa Barat. Sayangnya, informasi terbaru mengatakan bahwa TKW A tidak lagi berada di wilayah Karawang.

 Virus Corona

Diketahui, Kecamatan Pedas itu adalah alamat suaminya, sedangkan dia sendiri berasal dari Brebes dan saat ini sudah ada di wilayah Jawa Tengah tersebut.

"Jadi, dia (TKW A) kembali ke kampung halamannya di Brebes, Jawa Tengah, Asalnya memang dari Brebes, yang di Pedas itu alamat suaminya," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Karawang, Nanik Djojana, Kamis (3/3/2021).

TKW A ternyata hanya mampir di Kecamatan Pedas, Karawang. Di hari yang sama, dia langsung menuju Brebes pada malam hari. Informasi ini diketahui Dinkes setempat saat petugas berkunjung ke alamatnya yang di Pedas namun tak ditemukan batang hidung TKW A.

Padahal Tim Satgas Covid-19 Karawang masih melakukan pengamatan dan tracing terhadap keluarganya. Sebanyak 15 orang dari keluarga terdekat TKW M dan A menjalani tracing setelah diketahui bahwa mereka membawa mutasi corona B117 asal Inggris.

Sementara itu, untuk TKW inisial M tetap berada di Lemahabang karena memang dia tinggal di sana. Dia pun mendapat pengawasan ketat oleh Dinkes setempat, termasuk di dalamnya pemeriksaan lanjutan untuk memantau kondisi kesehatannya meski sudah dinyatakan negatif.

Di sisi lain, apakah TKW A yang kini diketahui berada di Brebes perlu dikhawatirkan meski dia sudah dinyatakan negatif Covid-19 melalui PCR test pasca-karantina?

Perlu diketahui bahwa orang dari luar negeri sebelum tiba di Indonesia harus mengantongi surat pernyataan negatif Covid-19 dari otoritas negara mereka yang berlaku 3 hari sebelum keberangkatan.

"Kalau hasilnya negatif, hasil pemeriksaan itu hanya menggambarkan kondisi saat pengambilan spesimen. Tenggang waktu dari pengambilan spesimen sampai keberangkatan, masih ada potensi dia terpapar. Nah, ini yang ingin diantisipasi pemerintah Indonesia," terang Ketua Subbidang Testing Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Dr. dr. Budiman Bela, SpMK melalui Youtube BNPB Indonesia, 24 Februari 2021.

Di sisi lain, kalau pun si orang ini tidak terinfeksi pada saat di bandara, ada kemungkinan dia terinfeksi di pesawat dalam perjalanan menuju Indonesia.

"Ini yang melatarbelakangi kebijakan kenapa waktu karantina 5 hari. Dalam 5 hari ini, bisa diantisipasi kemungkinan jika dia positif, diperiksa lagi. Kemudian, kami jadi memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk orang yang datang menularkan ke masyarakat," kata dr Budiman.

"Saya rasa ini bicara soal menurunkan serendah-rendahnya kemungkinan adanya imported case dari luar negeri. Karena kami takut ada virus baru yang berkembang di Indonesia, dan kami tidak ingin virus baru tersebut masuk ke Indonesia," tambahnya.

Soal durasi karantina 5 hari, menurut Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, terlalu singkat. Ia menyarankan 10 hari.

Dia menjelaskan, studi efektivitas karantina secara umum pada negara yang berhasil menerapkan skrining karantina, contohnya Australia dan Selandia Baru, mereka menerapkan karantina selama 14 hari.

Kalau mau turun, sambung Dicky, pada kasus negara lain yang relatif cukup baik karantinanya, durasi yang dilakukan ada di 10 hari. "Ini tentu bisa jadi bahan pertimbangan review kebijakan di Indonesia, terutama untuk karantina di pintu kedatangan," terangnya beberapa waktu lalu.

Menjadi catatan juga adalah pastikan mereka yang baru tiba di Indonesia, usai menjalani karantina 10 hari dan dinyatakan negatif Covid-19, lalu menuju lokasinya masing-masing, setibanya di sana segera lapor puskesmas setempat.

"Pelaporan ke puskesmas sangat diperlukan. Wajib malah kalau menurut saya. Sebab, itu menandakan dia sudah keluar dari fase karantina sejak kedatangan dan dinyatakan tidak terpapar Covid-19. Hal lainnya juga, laporan ke puskesmas itu sebagai upaya pematauan jika ada hal yang tidak diinginkan atau diperlukan pelaporan itu," kata Dicky Budiman.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan durasi karantina mandiri setelah melakukan perjalanan jauh bukan 5 hari, melainkan 7 hari full sekalipun hasil tes ulang menyatakan negatif Covid-19.

Tes Covid-19 pasca-liburan harus dilakukan 3 sampai 5 hari saat Anda sudah kembali ke negara asal. "Jika tidak melakukan tes, maka yang harus diperbuat adalah diam di rumah dan menjalani karantina mandiri selama 10 hari setelah berlibur," lapor CDC.

Perjalanan jauh, antarnegara misalnya, dikatakan CDC sangat berisiko terpapar Covid-19. Untuk menurunkan risiko, ada beberapa hal yang harus dilakukan usai perjalanan antarnegara:

1. Hindari keramaian dan menjaga jarak dengan orang lain setidaknya 2 meter dengan orang yang tidak melakukan perjalanan dengan Anda. Ini penting untuk dilakukan agar Anda melindungi diri orang lain yang Anda temui. Karena itu, jangan pernah bosan menggunakan masker.

2. Minta untuk orang di sekitar Anda rutin menggunakan masker juga, terlebih ketika dia berada di satu rumah bersama Anda setidaknya 14 hari setelah Anda pulang dari berlibur.

3. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin.

4. Jauhkan diri Anda dari orang-orang yang berisiko, seperti lansia.

5. Pantau terus kesehatan Anda dan segera lapor jika gejala Covid-19 mulai Anda rasakan dan tidak membaik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini