Peneliti Sebut Obesitas Pengaruhi Struktur Otak, Yuk Turunkan Berat Badan!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 04 Maret 2021 17:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 04 612 2372346 peneliti-sebut-obesitas-pengaruhi-struktur-otak-yuk-turunkan-berat-badan-sOJsNDQ2rY.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KEGEMUKAN atau obesitas memang menjadi salah satu masalah yang terjadi hampir di semua negara di belahan dunia. Obesitas pun menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling menantang di dunia.

Pasalnya, pandemi global telah menyebabkan insiden penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 yang lebih besar. Di Indonesia sendiri, hampir separuh aparatur negara seperti PNS, TNI, Polri hingga pegawai BUMN dan BUMD mengalami kegemukan atau obesitas sentral.

Lantas, kenapa sih kegemukan menjadi masalah, tentunya selain dari segi kesehatan. Nah, hal itu lantaran dilansir dari Science Daily, para peneliti yang menggunakan teknologi MRI canggih telah menemukan, kadar lemak tubuh yang lebih tinggi dikaitkan dengan perbedaan bentuk dan struktur otak.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Radiology, lemak dalam tubuh membuat struktur otak, termasuk volume materi abu-abu yang lebih kecil. Temuan ini menambah informasi penting untuk pemahaman kita tentang hubungan antara obesitas dan konsekuensi kesehatan negatif seperti demensia.

"MRI telah terbukti menjadi alat yang tak tergantikan untuk memahami hubungan antara perbedaan neuroanatomis otak dan perilaku," kata pemimpin penelitian, Ilona A. Dekkers, M.D., dari Leiden University Medical Center di Leiden, Belanda.

"Studi kami menunjukkan, pengumpulan data MRI yang sangat besar dapat meningkatkan wawasan tentang struktur otak mana yang terlibat dalam semua jenis hasil kesehatan, seperti obesitas," jelas dia.

Studi lainnya juga mengaitkan obesitas dengan peningkatan risiko percepatan penurunan kognitif dan demensia. Dengan begitu, fakta ini menunjukkan obesitas menyebabkan perubahan pada otak.

"Kami menemukan, kadar lemak tinggi yang didistribusikan ke seluruh tubuh dikaitkan dengan volume yang lebih kecil dari struktur penting otak, termasuk struktur materi abu-abu yang terletak di pusat otak," kata Dr. Dekkers.

Sekadar informasi, seseorang dikatakan mengalami obesitas sentral bila lingkar perutnya di atas 90 sentimeter untuk laki-laki dan 80 sentimeter untuk perempuan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyatakan prevalensi obesitas sentral di Indonesia mencapai 31%. Artinya 1 dari 3-4 orang di Indonesia mengalami obesitas sentral.

Prevalensi obesitas sentral pada 2018 ini naik bila dibandingkan 2013 lalu yaitu 26,6% dan 18,8% pada 2007 lalu. ”Obesitas sentral merupakan kondisi sebagai faktor risiko yang berkaitan erat dengan beberapa penyakit kronis,” sebut Kemenkes yang dikutip dari laman depkes.

Dalam Riskesdas 2018, obesitas atau kegemukan paling banyak dialami aparatur negara seperti PNS, TNI, Polri hingga pegawai BUMN dan BUMD. Kemenkes mencatat 48,5% aparatur negara mengalami obesitas sentral. Di urutan berikutnya adalah pengangguran 42,9% kemudian wiraswasta 36%.

Selain itu, pegawai swasta 28,8%, buruh/sopir/pembantu 20,9%, petani 20,6%, dan prevalensi obesitas terendah adalah nelayan 14,3%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini