Stunting Bisa Dicegah sejak Masa Kehamilan dengan Rutin USG

Antara, Jurnalis · Senin 08 Maret 2021 16:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 481 2374359 stunting-bisa-dicegah-sejak-masa-kehamilan-dengan-rutin-usg-Nah36QhXaB.jpg Ilustrasi ibu hamil. (Foto: Valeria Aksakova/Freepik)

DOKTER spesialis gizi klinik Amalia Primahastuti mengungkapkan bahwa stunting bisa dicegah sejak masa kehamilan dengan rutin melakukan pemeriksaan USG. Stunting sendiri merupakan kondisi kurang gizi kronis yang ditandai tinggi badan tidak normal pada anak.

Pemeriksaan rutin bisa membantu mengetahui apakah pertumbuhan janin sudah sesuai dengan usianya. Kemudian demi menghindari terjadinya pertumbuhan janin yang terhambat, maka ibu hamil tidak boleh berada dalam kondisi kekurangan gizi serta terhindar dari infeksi agar tidak terjadi kelahiran prematur.

Baca juga: PR Indonesia Perangi Stunting hingga 2024 

Dokter Amalia menjelaskan, supaya ibu hamil tidak kekurangan gizi maka perlu mengonsumsi makanan bergizi seimbang yakni makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak; kemudian mikro yaitu vitamin dan mineral. Dibutuhkan juga suplemen selama hamil untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan janin.

Ilustrasi ibu hamil. (Foto: Sheknows)

Setelah bayi lahir, deteksi dini dapat dilakukan dengan secara rutin mengukur berat dan panjang atau tinggi badan setiap bulannya pada usia 0–12 bulan dan setiap 3 bulan pada usia 1–3 tahun.

Untuk nutrisi anak, ia menyarankan bayi di bawah usia 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif karena ada banyak manfaat yang bisa didapatkan. Lalu sebagai asupan nutrisi pada bayi dilanjutkan dengan pemberian MPASI saat berusia 6 bulan.

Baca juga: Obesitas Meningkat, Stunting Tinggi, Indonesia Hadapi Masalah Gizi Ganda 

Dia juga menekankan imunisasi sesuai jadwal, stimulasi, dan menjaga kebersihan mencakup menggunakan air bersih saat MCK, makan dan minum, serta mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebagai cara lainnya untuk mencegah anak stunting.

"Kebersihan sangat penting bagi ibu hamil dan menyusui, terlebih saat pandemi, karena berisiko terkena penyakit infeksi termasuk virus covid-19. Pada masa pandemi juga kemungkinan makin banyak anak yang berisiko mengalami stunting karena terbatasnya akses makanan dan layanan kesehatan," papar dr Amalia dalam keterangannya, seperti dikutip dari Antara.

Kemudian apabila anak telanjur stunting, dia menyarankan orangtua membawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan terapi. Pada stunting fase awal, terapi mampu membuat tinggi anak ke arah normal.

Baca juga: Terungkap, Pandemi Covid-19 Berdampak pada Kebutuhan Gizi Anak 

Lebih lanjut secara umum terapi pada anak stunting mencakup pemberian makanan bergizi seimbang dengan kalori yang adekuat dan suplementasi gizi mikro.

Pemerintah Indonesia sendiri sebenarnya sudah menjalankan berbagai program untuk meningkatkan asupan makan melalui Program Makanan Tambahan (PMT) dan suplementasi seperti kapsul vitamin A, multivitamin), dan zinc (zat besi).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini