Kenali Pemicu Sakit Asma, Mulai Stres hingga Serangga

Sausan Sudarjat, Jurnalis · Selasa 09 Maret 2021 04:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 481 2374533 kenali-pemicu-sakit-asma-mulai-stres-hingga-serangga-M155jPBUFa.jpg Ilustrasi sakit asma. (Foto: Jcomp/Freepik)

ASMA merupakan salah satu penyakit yang penderitanya cukup banyak. Ini merupakan gangguan kesehatan yang menyerang bagian pernapasan. Sakit asma terjadi akibat saluran udara meradang, sempit, dan membengkak, lalu menghasilkan lendir berlebih sehingga menyulitkan bernapas.

Sakit asma bisa menyebabkan nyeri dada, napas berbunyi, dan batuk. Asma biasanya ditangani dengan inhaler penyelamatan untuk mengobati gejalanya dan pengendali inhaler yang mencegah gejalanya.

Baca juga: Serangan Asma, Ini Pertolongan Pertama yang Mesti Dilakukan 

Dalam kasus parah mungkin membutuhkan inhaler yang berefek lebih lama yang menjaga saluran udara terbuka, serta steroid oral.

Gejala asma bisa disebabkan faktor genetik dan lingkungan. Penderita asma biasanya memiliki faktor genetik yang membuatnya rentan terhadap asma. Demikian dikutip dari laman Live Science.

Selain itu, faktor lingkungan seperti paparan alergi atau infeksi virus tertentu saat bayi bisa meningkatkan risiko terkena penyakit tersebut. Demikian menurut National Heart, Lung, dan Blood Institute (NHLBI).

Pemicu gejala asma secara umum yakni asap rokok, tungau debu, polusi udara, serbuk sari, jamur, infeksi saluran pernapasan, aktivitas fisik, udara dingin, serta reaksi alergi terhadap beberapa makanan.

Nah, berikut ini cara menghindari pemicu asma yang mungkin tidak diketahui, sebagaimana dilansir laman The Healthy.

Ilustrasi sakit asma. (Foto: Rawpixel/Freepik)

1. Stres

Ketika mengalami stres biasanya serangan asma terjadi lebih sering dan parah. Tidak dipahami sepenuhnya mengapa bisa begitu, tetapi ketika tubuh memiliki tingkat kortisol yang rendah atau tidak efektif, hormon stres tidak dapat mengurangi peradangan.

"Penting untuk mengenali ini dan mencari cara untuk mengurangi stres harian," kata dr Payal Patel MD, anggota American Academy of Allergy Asthma and Immunology.

2. Hormon

Menurut dr Payal Patel MD, sakit asma lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Ini kemungkinan ada kaitannya dengan korelasi antara asma dan hormon estrogen serta progesterone. Asma bisa menjadi lebih buruk sebelum dan selama menstruasi atau membaik selama kehamilan.

"Ini sejalan dengan teori bahwa kontrasepsi oral dapat meningkatkan fungsi paru-paru karena fluktuasi kadar hormon yang berkurang," katanya. Ini gejala siklus menstruasi yang tidak biasa dan harus diperhatikan.

Baca juga: Rina Gunawan Menderita Asma, Salah Satu Komorbit Berbahaya jika Terpapar Covid-19 

3. Polusi

Polusi udara, seperti asap knalpot motor dan mobil, bisa memicu sakit asma. "Olahraga saat polusi tinggi atau di dekat jalan raya yang sibuk harus dihindari," ucap dr Patel.

Ia merekomendasikan untuk melakukan gym di dalam rumah daripada lari di luar dengan kualitas udara yang buruk. Bisa juga ke tempat-tempat yang sejuk udaranya segar dan jauh dari polusi kendaraan.

4. Pengawet

Bahan sulfit yang digunakan sebagai pengawet dalam produk seperti anggur, buah kering, dan sari buah, saus tomat/sambal buatan, serta sosis dapat mengiritasi paru-paru dan menyebabkan reaksi pada sekira 5 hingga 10 persen penderita asma.

Hal itu disebabkan selama pencernaan, perut menguapkan sulfit menjadi tetesan yang lewat tenggorokan dan masuk ke paru-paru dan menyebabkan iritasi.

Baca juga: Para Ahli Sebut Asma Bisa Kambuh karena Stres dan Cemas 

5. Serangga

Jaga kebersihan rumah supaya serangga kotor seperti kecoa dan tikus tidak masuk. Pasalnya, kotoran serangga tersebut dapat memicu asma. "Hewan pengerat juga dapat memicu asma, baik tikus dalam kota atau tikus di perdesaan," pungkas dr Patel.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini