Hari Perempuan Sedunia, Hebatnya Diah Darmawaty Insinyur Senior Boeing di Amerika Serikat

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 08 Maret 2021 08:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 612 2374019 hari-perempuan-sedunia-hebatnya-diah-darmawaty-insinyur-senior-boeing-di-amerika-serikat-wvW7cz4JkA.jpg Pesawat Boeing (Foto: Boeing)

Di Hari Perempuan Sedunia ini, kita perlu mengenal sosok wanita inspiratif, Diah Darmawaty. Ia bisa menjadi tauladan untuk semua perempuan Indonesia.

Menjalani profesi sebagai senior insinyur boeing di salah satu perusahaan di Amerika Serikat, membuat Diah mampu mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

 Diah

Sebagai seorang perempuan, dia pun mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya bisa mencapai kedudukan yang mungkin dunianya di dominasi oleh pria. Meski begitu, Diah juga seorang ibu yang hebat untuk anak-anaknya.

Bercerita pada program Jagad Perempuan di Youtube Neno Warisman, Diah menceritakan pada awalnya dia ingin sekali menjadi dokter. Tes masuk kedokteran pun dia jabani dan hasil tes menunjukkan sesuatu yang memuaskan.

"Hasil ujian, nilai saya paling rendah 92. Guru pembimbing saya pun yakin saya lolos. Tapi, tanda tangan saya keluar kotak. Dengar itu, guru saya kaget sekaligus bilang, 'kamu gimana sih, kalau gitu gagal'. Ya, mungkin Allah Maha Tahu itu jalan saya bukan jadi dokter," terangnya.

Setelah itu, Diah memilih jalan untuk masuk ke perguruan tinggi dengan jurusan Teknik Sipil. Jalan itu pun yang membuatnya bertemu dengan sang jodoh. Di masa kuliah itu, Diah mengaku menyukai teknik fondasi dan mekanika tanah.

Setelah mendapat gelar Sarjana Teknik, Diah merantau ke Bandung. Dia jajal semua perusahaan yang membuka lowongan kerja. Jalan kaki pun dia jabani, karena tidak tahu jalan daerah Pasteur.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Diah dapat pekerjaan di perusahaan bidang finansial. Entah bagaimana rezekinya membawa dia ke situ. Dia jalani kehidupan barunya itu sampai diaspora Indonesia ini sadar kalau pekerjaan itu bukan kesukaannya.

Sampai suatu ketika dia menemukan minat barunya di pekerjaan tersebut yaitu menganalisis grafik. "Saya dapat key rumusnya dan karena itu, waktu perdagangan mata uang, saya selalu bisa bikin untung perusahaan," ceritanya gembira.

Karena prestasi tersebut, di usianya yang masih muda, Diah diangkat oleh direktur perusahaan untuk menjabat sebagai deputi bisnis manager perusahaan tersebut.

Singkat cerita, kakaknya yang paling tua mengajak Diah untuk masuk ke PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Mendapat tawaran itu, Diah merespons, "Bukannya itu perusahaan pesawat?". Lalu, kakaknya menimpali, "Memangnya sekarang kamu kerja di dunia teknik sipil?".

Usai itu, Diah ikut tawaran kakaknya tersebut untuk menjajal peruntungan di IPTN. Tes dia jalani dengan kondisi tubuh yang sangat tidak sehat. Sebelumnya Diah mengaku koma.

"Pas tes, itu saya ditemani suami. Dia tuntun saya, kepala pusing, yang saya tahu pokoknya saya lihat kertas putih saja. Enggak tahu ada apa di sekeliling saya. Alhamdulillah saya lulus percobaan yang artinya perusahaan akan lihat kinerja kita 3 bulan, kalau tidak sesuai, ya, selesai," curhatnya.

Di sini Diah belajar benar-benar dari nol. Dia mengaku belajar dengan sungguh-sungguh menggunakan buku yang di-fotocopy. "Meski begitu, Pak Habibie memberikan mentor untuk saya," kata Diah.

"Saya dapat kesempatan untuk belajar badan pesawat. Waktu saya di-hire boeing, saya kerja yang benar-benar saya enggak tahu. Sesuatu 'I have not clue at all'. Sedangkan, saya ketika mendapat pekerjaan itu menggantikan orang hebat di perusahaan tersebut. Jadi ekspektasi orang-orang luar biasa, sedangkan saya gak tahu apa-apa karena teknologinya beda. Teknologi untuk interior pesawat berbeda dengan badan, ekor, atau sayap," paparnya.

Karena situasi itu, Diah mengaku sempat frustasi. Dia menangis dan bilang ke suami untuk izin pulang kembali ke Indonesia. Tapi, suaminya bilang 'dibikin enak'.

Setelah dicoba lagi, ternyata masih belum dapat enaknya. "Lalu, suami saya bilang kalau saya datang ke Amerika mungkin ada hal yang Allah SWT ingin tunjukan. Sesudah itu, saya sadar. Mungkin ini amanah dari Allah," tambah dia.

Sejak saat itu sampai sekarang, Diah menjadi insinyur senior di salah satu perusahaan pesawat Boeing di Amerika Serikat. Ada satu pesan yang ingin disampaikan Diah untuk semua perempuan:

"Kalau kita menguasai masalah, kita jangan takut. Lalu,terbuka saja, kalau enggak tahu, ya, bilang enggak tahu. Jangan berhenti belajar, membangun kepercayaan itu juga penting," ucapnya penuh bangga.

Hal menarik lainnya adalah meski sudah lama menetap di Amerika Serikat, Diah ternyata mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia ke anaknya. Tidak hanya itu, dia mengajarkan makna Islam yang damai kepada anaknya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini